Showing posts with label Cerita. Show all posts
Showing posts with label Cerita. Show all posts

Wednesday, April 8, 2015

Jeritan Penuh Dosa



   Arak-arakan langit senja terlihat begitu indah. Pepohonan seakan menari, menikmati belaian lembut angin yang berembus.Hujan rintik-rintik turun, menyongsong senja yang telah tiba.  Di balik keramaian kota, seorang Ibu paruhbaya menjinjing barang jualannya. Tersirat wajah bahagianya, walaupun kue-kue jualannya masih sedikit terjual.

                                                                                                                                             ***
   Ckiiit! Rem mendadak yang dilakukan oleh supir pribadiSyalia membuat badanku ke depan. Rupanya ada seorang ibu yang sedangmenyebrang. Pelan sekali.
  “Siapa sih, Ibu itu? Sudah hampir tua, lelet lagi jalannya,” gerutu Syalia seraya membuka kaca jendela mobil. “Oh,ternyata penjual kue. Ih, enggak level binggow,”lanjutnya.
Aku dan Syalia memutuskan untuk turun, lantas berjalan menuju ibu penjual kue itu.
  Syalia mengentakkan kaki.
“Ibu, kalau jalan bisa enggak sih, lihat-lihat?”
Spontan, Ibu penjual kue itu melihat wajah kami berdua, aku dan Syalia. Begitukagetnya aku. Ibu penjual itu adalah ….. Ibu!
 Hah? Ngapain Ibu jualan kue? Malu tahu. Apalagi dilihat sama Syalia.Huh, batinku kesal.

  “Layla, bukannya itu ibu kamu?” tanya Syalia.Aku diam seribu bahasa. Begini-begini juga, aku bukan malin kundang yang tidakmengakui ibunya. Ugh, harus gimana ini?
 Dengan sangat amat terpaksa, aku mengangguk.“Maafiin ibu aku ya. Ya udah deh, pesta tehnya diundur aja. Kamu pulang. Biar aku yang beresin semuanya,”
  Syalia mengangguk mengerti, lalu menujuke mobilnya.Brmm…. Mobil melaju, hingga hilang dari pandanganku. Kini, tinggalah aku dan Ibu. Aku dan Ibu berjalan ke pinggir.
   “Bu, ngapain sih Ibu jualan kue segala? Katanya ibu sakit. Sampai enggak mau beliin Layla baju lagi. Layla sebenernya udah sabar waktu Ibu enggak beliin baju. Tapi sekarang, ternyata Ibu bohong. Berarti ibu enggak sakit kan? Hujan-hujan gini relain jualan kue,”ucapku kesal. Aku membuka tutup keranjang kue yang dijinjing Ibu. Segera saja kuambil kue-kue itu dan membuangnya ke tanah. Ketika semua kue sudah berada ditanah, aku injak semua kue itu.

    Aku berlari meninggalkan Ibu. Untung saja,rumahku tak jauh dari sini.
***
  Sudah tiga hari lamanya Ibu tidak datang ke rumah.  Oups, rumah?  Mungkin. Tapi lebih tepatnya tempat berlindung dari bambu dan anyaman. Well,aku enggak tahu apa namanya rumah jelek itu. Jadi, selama ini aku berpuasa. Kalau di sekolah, aku selalu diberi chiki serta snack lainnya oleh teman-teman.
    “Assalamu’alaikum,” salamku ketika kakikusudah berpijak di rumah. Tak ada siapa-siapa. Huh, Ibu macam apa sih yang tega ninggalin anaknya. Udah tahu Bapaknya udah meninggal. Sekolahku juga dari beasiswa prestasi, karena menang lomba olimpiade. Awalnya sih beasiswa kurangmampu di sekolah dasar negeri, tapi karena mewakili sekolah hingga tingkatnasional dan juara, aku jadi mendapat beasiswa di sekolah eliteBack to the story.

 Bruuk!
 Aku menyimpan tas di dekat meja belajar yang telah rapuh. Eh,apa itu? Sebuah kotak besar. Dibungkus dengan kertas bermotif yang menawan. Sungguh indah. Tanpa ba-bi-bu lagi, aku segera membukanya. Terdapat   lima potong baju yang aku idam-idamkanselama ini.
  Ngiung..ngiung.. ngiung..! Terdengar suaraambulns. Semakin lama, suaranya semakin mengeras.
  “Layla…! Layla …!” seru Bu Ida,tetanggaku. Beliau orang kaya. Rumahnya megah, antonim dari rumahku.
  ”Ada apa, Bu?”
“Ibumu, Lay. Ibumu….,”  Bu Ida langsung menjelaskan semuanya. Semua berawal dari tiga hari yang lalu. Ketika senja telah berakhir, Ibu tertabrak oleh mobil. Dan rupanya, Ibu tertabrak mobil karena dia pusing. Penyakitnya belum sembuh tapi sudah  jualan kue sambil hujan-hujanan. Itu karena aku, hiks…. Ibu. Jangan pergi! Aku membatin penuh penyesalan.
  Kau tahu, apa yang terjadi selanjutnya? Akumenangis dan menjerit sekeras-kerasnya. Jeritan penuh dosa, yang tak bisa didengar oleh Ibu. Bu, kalau Ibu bisa hidup lagi, aku ingin memeluk  Ibu dan meminta maaf, Bu …

Pelangi Tanpa Warna


 Papa. Yups, Papa seorang nelayan dan Mama adalah seorang ibu rumah tangga. Aku sangat menyayangi Papa dan Mama.
  Mataku berkelana, mencari sesuatu. Sesuatu yang tak kunjung muncul. Sesuatu yang sangat kutunggu-tunggu. Mengapa tidak ada pelangi? Bukankah pemandangan pagi itu indah, apalagi dihiasi pelangi. Pasti tambah indah.
  “Ma, suatu saat nanti pasti aku,Papa, dan   Mama bisa bermain di pelangi itu. Di sana kita juga menari dan berbagi banyak  hal,” ujarku seraya menerawang ke masa depan.
***
    Pelangi muncul di bentangan langit yang sangat luas. Begitu indah mempesona, namun suskses membuatku mengeluarkan air   mata. Teringat kembali kenangan kelam itu. Ketika tsunami Aceh melanda padatahun 2004. Tsunami itu merampas nyawa kedua orangtuaku. Sampai sekarang, tahun 2015, Papa belum ditemukan.

    Waktu itu, aku masih ingat. Di posko tsunami, Mama tergeletak lemah. Aku yang ada di sampingnya tak bisa apa-apa. Hanya menangis. Karena kaki kiriku, harus diambil karena kalau tidak diambil dapat menyebar ke seluruh badanku. Pasti kau bertanya-tanya. Mengapa bisa begitu? Kakiku mati rasa karena tsunami. Dan pada saat itu, ketika aku menengok ke arah Mama, ia berkatapelan, “Nurul, pasti nak. Kita bisa bermain,menari, dan berbagi banyak hal di pelangi,”

   Pada saat aku berkata akan bermain di pelangi, umurku belum genap empat tahun.
 “Dan, juara pertama diraih oleh…… Nurusysyfa  Al-Kautsari dari Aceh,” suara mc  membuyarkan lamunanku. Aku celingak-celinguk.  Suara tepuk tangan menggema, membuat pertanyaanku tidak terjawab.
  “ Nurul, kamu menang.” Beritahu Alya,finalis olimpiade IPA dari Sulawesi Tenggara. Sungguh tidak percaya aku. Sambil  terus memanjatkan syukur, aku maju ke depan panggung. Mataku melihat setiap    sudut yang ada di depanku. Semua finalis-finalis itu bertepuk tangan. Aku akhirnya bisa mendapatkan piala,uang,piagam, medali, dan mewakili Indonesia di   olimpiade Internasional.  Aku mengerjap-ngerjapkan   mata, berusaha untuk tidak mengeluarkan air mata. Selama ini aku dibully, diejek karena kekurangan fisikku,tapi akhirnya bisa kubuktikan…..
***
   Paris di Prancis. Sebuah kota yang terkenal,  disebut dengan kota Mode. Semua mode di berbagai Negara berkiblat di sana. Dan  kini, aku berada di Paris. Menghadiri acara olimpiade tingkat Internasional   mewakili Indonesia. Paris, sebuah kota yang aku dan Papa Mama impikan setelahkota Mekkah. Saat hidup, Aku,Papa, dan Mama hanya bisa ke Mekkah saja,melaksanakan umrah. Tapi, belum sampai ke Paris.
  Ma, Pa… aku cinta Mama dan Papa. Tapi, bagaimana aku ekspresikan cintaku  ini? Andai saja mama dan papa masih ada, batinku.
  “Ma, suatu saat nanti pasti aku,Papa, dan Mama bisa bermain di pelangi itu. Di sana kita juga menari dan berbagi banyakhal,” seakan terdengar suara seseorang. Kalimatnya mirip apa yang kukatakan  ketika aku berumur tiga tahun. Mungkin, sekarang aku berada di pelangi. Pelangi kehidupan dan ini puncaknya. Kesuksesanku untuk mewakili Indonesia. Tapi, kalau ini diartikan sebagai pelangi, mungkin kurang sempurna. Pelangi tanpa warna tepatnya. Karena, tidak ada Mama dan Papa di sampingku..

Sayur Kangkung


Sayur Kangkung

"Ayolah, Dit! Kita berangkat makan sekarang!"
"Makasih, aku mau makan di rumah aja deh."
"Huuu, Radiiit! Kita ditraktir loh, masa kamu enggak mau?"
"Lain kali aja yaa, aku mau buru-buru pulang nih!" kata Radit menyandang ranselnya dan terburu keluar kelas.
Elvin, Shelma dan Fajri hanya menggelengkan kepala saja, melihat Radit yang sudah menghilang dengan sepedanya, tentu saja pulang ke rumahnya.
"Heran deh sama si Radit!" kata Elvin
"Iya, enggak pernah mau diajak makan-makan bareng." timpal Shelma
"Kalau aku sih udah enggak heran lagi, lah hampir tiap diajak, nolak terus hehhee.." kata Fajri pada ke dua sahabatnya itu.
Padahal, ada teman sekelas yang ulang tahun. Mereka semua akan ditraktir makan-makan di sebuah restoran ayam goreng, yang tidak jauh dari sekolah. Tapi lagi-lagi, Radit tidak bisa ikut bersama mereka. Suatu hal yang membuat ketiga sahabatnya menjadi penasaran.
smile emoticon smile emoticon smile emoticon
Hari ini, ada tugas belajar kelompok. Dan kebetulan giliran di rumah Radit mereka akan belajar. Setelah bel usai sekolah hari ini. Radit, Shelma, Fajri dan juga Dian segera menuju tempat parkir sepeda. Hampir semua anak kelas 5 dan 6 membawa sepeda ke sekolah. Lagi pula rumah mereka tidak begitu jauh dari sekolahan. Hanya Dian yang tidak membawa sepeda, dan dia ikut membonceng di sepeda Radit.
Rumah Radit, cukup dekat dari sekolahan. Namun jalan menuju ke rumah Radit cukup penuh perjuangan juga karena rumahnya tidak di dalam kompleks seperti yang lain. Mereka harus melewati pematang sawah dan sebuah sungai kecil.
"Dit, aku baru tahu loh, ada tempat seseru ini di sekitar sekolah kita!" kata Dian terkagum-kagum sepanjang perjalanan.
"Hahaha, aku sih tiap hari lewat sini, jadi ya biasa aja tuh!" jawab Radit.
"Wooy Dit, masih jauh enggak sih?" tanya Elvin yang berbadan sedikit gemuk itu.
"Tenaang, masih dua kilometer lagi!" celetuk si tomboy Shelma.
Semua tertawa melihat wajah Elvin yang ternganga dan penuh keringat itu. Dia memang tidak biasa bersepeda dengan jalanan seperti itu.
Akhirnya mereka sampai juga di rumah Radit yang adem, karena banyak pohon buah dan ada dekat persawahan.
"Assalamualaikuum.." kata Radit sambil membuka pintu rumah yang tidak terkunci.
"Waalaikumsalaaaamm.." sebuah suara menyahuti mereka.
"Nek, ini teman-teman Radit mau belajar kelompok di sini." kata Radit memperkenalkan semua teman-temannya.
"Oh ya sudah! Sebelum mulai belajar kalian makan siang dulu yaaa!" tawar nenek pada semuanya.
Tentu saja, mereka semua mengangguk setuju. Setelah mencuci tangan, mereka semua duduk lesehan di lantai rumah yang bersih dan beralaskan tikar. Aroma masakan nenek sangat menggoda selera. Padahal yang terhidang hanya goreng tahu, tempe, dadar telur dan semangkuk besar sayur kangkung yang masih panas. Tentu saja juga ada sambal terasi, hmmm yummy!
Awalnya semua teman Radit terlihat malu-malu saat mulai makan. Tapi ketika mereka mencicipi sayur kangkung masakan nenek, selera makan mereka mengalahkan rasa malu. Apalagi saat nenek berkata
"Ayo dihabiskan, jangan malu-malu. Anggap saja di rumah sendiri!"
Elvin sudah banjir keringat, Shelma dan Dian terlihat lahap begitu juga Fajri dan Radit. Kemudian Fajri berkata sambil menambahkan sesendok sayur kangkung lagi ke piringnya
"Sekarang, aku jadi tahu apa rahasia Radit enggak pernah mau diajak makan-makan sama kita!"
"He ehh, aku juga udah tau!" jawab Shelma
"Apa emangnya?" tanya Radit terheran sendiri.
"Rahasianya karena sayur kangkung!" kata semua teman Radit berbarengan.
Tiba-tiba nenek datang dan bertanya
"Kenapa dengan sayur kangkung nenek?"
"Mantap maknyosss nek!" jawab mereka bersama-sama.
grin emoticon end!

Monday, March 23, 2015

Ibu Telah Berbohong

Ditulis oleh Queen Aura (Penulis KKPK)
23 March 2015 at 10:19


Alia terkejut melihat apa yang ditemukannya di dalam lemari Ibu. Sebuah dompet lusuh dan berisi uang yang juga lusuh! Alia terhenyak..

"Jadii.. Ibu udah bohong, sama aku?"

Alia tidak dapat menahan perasaan yang berkecamuk dalam hatinya. Bercampur aduk antara bingung, heran, kecewa dan juga tidak percaya. Ternyataa! Ibu punya kok uang bahkan jumlahnya cukup banyak dari yang diminta Alia kemaren. Alia masih termangu dan mengingat kejadian beberapa hari yang lalu.

"Bu, abis Try Out, kita sekelas mau jalan-jalan ke mall juga sekalian nonton." kata Alia pada Ibu saat pulang sekolah.
"Kan, baru selesai TO, masih ada UN dan UAS. Jangan berleha dulu." jawab Ibu dengan tersenyum.
"Gak apa-apa kali bu! Orang aku udah janjian ama Lisa, Maura dan Cika."
"Nanti ya, Alia. Sekarang habiskan dulu makannya nanti kita bicarakan lagi!" kata Ibu sambil menambahkan sayur ke piring Alia.

Di sekolah, kemaren teman-teman Alia juga sudah menanyakan kepastian Alia buat ikut nonton dan main ke mall. Tapi Alia belum bisa memberikan jawaban karena pembicaraan dengan Ibu belum tuntas. Pulang sekolah, Alia kembali berkata pada Ibu.

"Bu, kasih Alia uang ya, buat nonton dan main ke mall ama teman-teman."
"Alia, itu kan, enggak harus. Lagipula kamu masih harus banyak belajar buat UN dan UAS." jawab Ibu
"Huh! Ibu mah begituu!" jawab Alia cemberut
"Alia, Ibu enggak punya uang buat keperluan kamu yang enggak penting seperti itu!" jawab Ibu sambil beranjak dari duduknya.

Dan, sekarang? Buktinya Ibu punya uang kok! Tapi kenapa harus bohong sama Alia? Alia rasanya pengen marah karena ternyata Ibu punya uang. Lalu kemudian dia keluar mencari Ibu yang sedang menyetrika baju. Alia menghampiri Ibu.

"Ibu bohong sama Alia!" kata Alia dengan wajah cemberut
"Eh, kok Alia ngomong gitu sama ibu?" tanya Ibu dengan heran.
"Nih, buktinya Ibu punya uang, kata ibu enggak ada!" nada suara Alia makin tinggi.

Ibu melihat dompet yang ada di tangan Alia. Mematikan setrikanya dan mengambil dompet itu dari Alia lalu berkata
"Alia, kamu kok bongkar lemari ibu sih?"
"Ibu bohong!" kata Alia tanpa mengindahkan tanya ibu padanya.
"Alia, denger ya, nak! Ibu memang enggak punya uang kalau untuk keperluan yang tidak penting."
"Tapi itu ada uang dalam dompet itu!" kata Alia
"Alia, ini uang yang ibu kumpulkan sedikit demi sedikit buat keperluan kamu nanti masuk SMP. Nih, lihat baru terkumpul sekitar 625.000 ribu. Sementara kebutuhan kamu nanti, masih banyak lagi." kata Ibu sambil menghitung uang itu.
"Jadi, maksud ibu uang itu buat Alia masuk SMP?" tanya Alia lagi.
"Alia sayang, sebenarnya kamu enggak perlu tahu bagaimana ibu mengumpulkan uang ini tapi kamu sudah keduluan mengetahuinya."

Alia tidak dapat berkata apa-apa lagi, matanya telah kabur oleh genangan air mata yang siap tumpah. Alia merasa telah sangat bersalah menuduh ibu berbohong. Padahal selama ini ibu telah berusaha mencari uang sendiri sejak ayah meninggal dua tahun yang lalu. Ibu menerima laundry dari tetangga sekitar.

"Bu, maafin Alia.. Hiks.." kata Alia memeluk Ibu dengan erat.