Showing posts with label KIsah Muhammad Rafid Nadhif. Show all posts
Showing posts with label KIsah Muhammad Rafid Nadhif. Show all posts

Wednesday, April 15, 2015

Jelmaan Air Mata


             “Buang saja mimpimu jauh-jauh. Anggap sajamimpi itu telah sirna bersama dengan sirnanya senja kali ini, Runi.”

Semburat jingga yang terlukis sempurna terlihat begitu menawan. Jarum jam terlihat sangat lincah berputar, tak seperti biasanya. Angin bertiup lembut, seakan membelai setiap orang dengan cinta. Sekawanan burung berkelana,  menghiasi indahnya senja.

  Clak..! Clak .. ! Air mata keluar dari mata Runi. Di antara tangisnya, ia mencoba untuk terbangun. Ingin rasanya aku membantunya. Tersirat      dari wajahnya, ia berteriak mengekspresikan perasaannya kali ini. Namun sayang. Aku hanyalah Nadia,siswi kelas 6 yang tidak mungkin bisa mengalahkan Kamelia. Maafkan aku, Runi, batinku. Lagipula, aku tidak selevel dengan Runi. Seperti bumi danlangit. Aku anak orang kaya sedangkan Runi? Eh, tapi tunggu. Bukankah akusetiap hari memerhatikan dia walaupun tidak sekelas?
   Ya, seperti biasa Kamelia dan kawan-kawan membully Runi. Bahkan, uang jajan Runidiambil oleh Kamelia. Padahal, Runi hanya membawa uang jajan seribu rupiahsetiap harinya. Dan kali ini, Kamelia membakar kertas bertuliskan cerita pendek karya Runi. Runi akhirnya bisa terbangun. Ada luka kecil di kakinya. Ketika ia berdiri, Kamelia mendorongnyahingga terjatuh kembali.

     “Sudah kubilang, kau menyerah saja. Dasar payah! Oh ya, buang mimpimu jauh-jauh ya!” seru Kamelia.
***
  Bel istirahat berbunyi nyaring. Seperti biasa, semua berhamburan untuk pergi keluar kelas. Aku berjalan bersama Shara,   namun berpisah ketika sampai di depan perpustakaan. Kini aku hanya sendiri. Kulihat, Runi sedang mengajarkan materi-materi matematika kepada Kamelia. Dia juga berbicara, menawarkan barang dagangannya ketika Kamelia sedang mengerjakan soal yang diajari Runi.
  Itulah Runi. Siswi yang hanya memiliki delapan jari. Ia selalu ceria, walau ia dibully.  Mungkin bisa dibilang kemarin sore saja ia menangis. Sebelum dan setelahnya, Runi selalu tersenyum. Yups, Runi sukses membuat tanda tanya di pikiranku.
***
   Pemandangan kota yang penuh polusi kini sudah bermetamorfosis menjadi kota canggih namun bebas polusi. Kau pasti heran, mengapa ada kota canggih namun bebas polusi? Memangnya ada, kota canggih tanpa polusi?
  Inilah Indonesia. Telah berubah mengikuti arus globalisasi. Kau jangan lupa denganku , ya! Aku Nadia. Sekarang aku bekerja sebagai pembawa acaratalkshow di salah satu televisi swasta ternama. Sebelum acara talkshowdimulai, seperti biasa aku akan berbincang-bincang dengan bintang tamunya.
   Di hadapanku ada seorang wanita sukses. Parasnyacantik bukan main.
“Khairunnisa Azzahra?” pekikku kaget ketika aku tahu bintang tamu kali ini. Dia berjalan dan duduk di dekatku. Spontan, aku dan dirinya berpelukan. Ya, kini aku berhadapan dengan Runi, penulis sukses. Buku-bukunya best seller, terkenal hampir di seluruh dunia karena bukunya dicetak di berbagai Negara, dan buku-bukunya juga banyak yang diangkat menjadi film layar lebar.

    “Hai Runi, apa kabar? Oh ya, ada satu pertanyaan besar yang masih belum terjawab sejak dulu dari zaman kita SD. Kamu sering dibully oleh Kamelia dan kawan-kawan, namun kamu tetap ceria, tersenyum. Bahkan kamu masih mau mengajari Kamelia tentang pelajaran yang tidak ia mengerti. Mengapa, Runi?” tanyaku. Runi tersenyum, lalu memutarkan bola matanya. Sepertinya ia sedang menerawang ke masa lalu, mengingat kembali memori-memori kenangan dulu.
  “Alhamdulillah, Nad. Aku baik. Nah lho,pertanyaan itu ya? Sebenarnya, aku bisa jadi sukses seperti ini dan bisa selalu ceria walau dibully karena satu. Orang tua. Kamu tahu, Nad? Orang tua adalah segalanya. Manusia yang bisa apa saja. Abi seorang pahlawan yang bekerja banting tulang dan Ummi adalah malaikat yang rela apapun. Dan orang tualah yang membuat hari-hari berwarna, membuat dunia menjadi bermakna. Jasanya sungguh berharga,” Runi menarik nafasnya. “Jadi, kesuksesan ini adalah jelmaan dari airmata. Air mata kesedihanku dulu. Tapi, karena Ummi dan Abi, air mata itu menjadi tawa. Hingga menjelma menjadi kesuksesan,”  
  Aku mengangguk, berusaha mencernakata-kata Runi tadi. Ya, orang tua adalah segalanya. Kini aku tahu, mengapa Runi selalu ceria. Karena Runi bahagia dan sangat bersyukur ada surga di rumahnya. Langsung saja aku teringat pada Ayah dan Bunda. Saat ini Ayah dan  Bunda pasti memikirkanku walau sedang sakit, sedangkan aku yang masih sehat tidak memikirkan mereka. Ayah, Bunda….,aku membatin. Tanpa terasa, setetes air mata jatuh dari mataku.      

Wednesday, April 8, 2015

Jeritan Penuh Dosa



   Arak-arakan langit senja terlihat begitu indah. Pepohonan seakan menari, menikmati belaian lembut angin yang berembus.Hujan rintik-rintik turun, menyongsong senja yang telah tiba.  Di balik keramaian kota, seorang Ibu paruhbaya menjinjing barang jualannya. Tersirat wajah bahagianya, walaupun kue-kue jualannya masih sedikit terjual.

                                                                                                                                             ***
   Ckiiit! Rem mendadak yang dilakukan oleh supir pribadiSyalia membuat badanku ke depan. Rupanya ada seorang ibu yang sedangmenyebrang. Pelan sekali.
  “Siapa sih, Ibu itu? Sudah hampir tua, lelet lagi jalannya,” gerutu Syalia seraya membuka kaca jendela mobil. “Oh,ternyata penjual kue. Ih, enggak level binggow,”lanjutnya.
Aku dan Syalia memutuskan untuk turun, lantas berjalan menuju ibu penjual kue itu.
  Syalia mengentakkan kaki.
“Ibu, kalau jalan bisa enggak sih, lihat-lihat?”
Spontan, Ibu penjual kue itu melihat wajah kami berdua, aku dan Syalia. Begitukagetnya aku. Ibu penjual itu adalah ….. Ibu!
 Hah? Ngapain Ibu jualan kue? Malu tahu. Apalagi dilihat sama Syalia.Huh, batinku kesal.

  “Layla, bukannya itu ibu kamu?” tanya Syalia.Aku diam seribu bahasa. Begini-begini juga, aku bukan malin kundang yang tidakmengakui ibunya. Ugh, harus gimana ini?
 Dengan sangat amat terpaksa, aku mengangguk.“Maafiin ibu aku ya. Ya udah deh, pesta tehnya diundur aja. Kamu pulang. Biar aku yang beresin semuanya,”
  Syalia mengangguk mengerti, lalu menujuke mobilnya.Brmm…. Mobil melaju, hingga hilang dari pandanganku. Kini, tinggalah aku dan Ibu. Aku dan Ibu berjalan ke pinggir.
   “Bu, ngapain sih Ibu jualan kue segala? Katanya ibu sakit. Sampai enggak mau beliin Layla baju lagi. Layla sebenernya udah sabar waktu Ibu enggak beliin baju. Tapi sekarang, ternyata Ibu bohong. Berarti ibu enggak sakit kan? Hujan-hujan gini relain jualan kue,”ucapku kesal. Aku membuka tutup keranjang kue yang dijinjing Ibu. Segera saja kuambil kue-kue itu dan membuangnya ke tanah. Ketika semua kue sudah berada ditanah, aku injak semua kue itu.

    Aku berlari meninggalkan Ibu. Untung saja,rumahku tak jauh dari sini.
***
  Sudah tiga hari lamanya Ibu tidak datang ke rumah.  Oups, rumah?  Mungkin. Tapi lebih tepatnya tempat berlindung dari bambu dan anyaman. Well,aku enggak tahu apa namanya rumah jelek itu. Jadi, selama ini aku berpuasa. Kalau di sekolah, aku selalu diberi chiki serta snack lainnya oleh teman-teman.
    “Assalamu’alaikum,” salamku ketika kakikusudah berpijak di rumah. Tak ada siapa-siapa. Huh, Ibu macam apa sih yang tega ninggalin anaknya. Udah tahu Bapaknya udah meninggal. Sekolahku juga dari beasiswa prestasi, karena menang lomba olimpiade. Awalnya sih beasiswa kurangmampu di sekolah dasar negeri, tapi karena mewakili sekolah hingga tingkatnasional dan juara, aku jadi mendapat beasiswa di sekolah eliteBack to the story.

 Bruuk!
 Aku menyimpan tas di dekat meja belajar yang telah rapuh. Eh,apa itu? Sebuah kotak besar. Dibungkus dengan kertas bermotif yang menawan. Sungguh indah. Tanpa ba-bi-bu lagi, aku segera membukanya. Terdapat   lima potong baju yang aku idam-idamkanselama ini.
  Ngiung..ngiung.. ngiung..! Terdengar suaraambulns. Semakin lama, suaranya semakin mengeras.
  “Layla…! Layla …!” seru Bu Ida,tetanggaku. Beliau orang kaya. Rumahnya megah, antonim dari rumahku.
  ”Ada apa, Bu?”
“Ibumu, Lay. Ibumu….,”  Bu Ida langsung menjelaskan semuanya. Semua berawal dari tiga hari yang lalu. Ketika senja telah berakhir, Ibu tertabrak oleh mobil. Dan rupanya, Ibu tertabrak mobil karena dia pusing. Penyakitnya belum sembuh tapi sudah  jualan kue sambil hujan-hujanan. Itu karena aku, hiks…. Ibu. Jangan pergi! Aku membatin penuh penyesalan.
  Kau tahu, apa yang terjadi selanjutnya? Akumenangis dan menjerit sekeras-kerasnya. Jeritan penuh dosa, yang tak bisa didengar oleh Ibu. Bu, kalau Ibu bisa hidup lagi, aku ingin memeluk  Ibu dan meminta maaf, Bu …

Pelangi Tanpa Warna


 Papa. Yups, Papa seorang nelayan dan Mama adalah seorang ibu rumah tangga. Aku sangat menyayangi Papa dan Mama.
  Mataku berkelana, mencari sesuatu. Sesuatu yang tak kunjung muncul. Sesuatu yang sangat kutunggu-tunggu. Mengapa tidak ada pelangi? Bukankah pemandangan pagi itu indah, apalagi dihiasi pelangi. Pasti tambah indah.
  “Ma, suatu saat nanti pasti aku,Papa, dan   Mama bisa bermain di pelangi itu. Di sana kita juga menari dan berbagi banyak  hal,” ujarku seraya menerawang ke masa depan.
***
    Pelangi muncul di bentangan langit yang sangat luas. Begitu indah mempesona, namun suskses membuatku mengeluarkan air   mata. Teringat kembali kenangan kelam itu. Ketika tsunami Aceh melanda padatahun 2004. Tsunami itu merampas nyawa kedua orangtuaku. Sampai sekarang, tahun 2015, Papa belum ditemukan.

    Waktu itu, aku masih ingat. Di posko tsunami, Mama tergeletak lemah. Aku yang ada di sampingnya tak bisa apa-apa. Hanya menangis. Karena kaki kiriku, harus diambil karena kalau tidak diambil dapat menyebar ke seluruh badanku. Pasti kau bertanya-tanya. Mengapa bisa begitu? Kakiku mati rasa karena tsunami. Dan pada saat itu, ketika aku menengok ke arah Mama, ia berkatapelan, “Nurul, pasti nak. Kita bisa bermain,menari, dan berbagi banyak hal di pelangi,”

   Pada saat aku berkata akan bermain di pelangi, umurku belum genap empat tahun.
 “Dan, juara pertama diraih oleh…… Nurusysyfa  Al-Kautsari dari Aceh,” suara mc  membuyarkan lamunanku. Aku celingak-celinguk.  Suara tepuk tangan menggema, membuat pertanyaanku tidak terjawab.
  “ Nurul, kamu menang.” Beritahu Alya,finalis olimpiade IPA dari Sulawesi Tenggara. Sungguh tidak percaya aku. Sambil  terus memanjatkan syukur, aku maju ke depan panggung. Mataku melihat setiap    sudut yang ada di depanku. Semua finalis-finalis itu bertepuk tangan. Aku akhirnya bisa mendapatkan piala,uang,piagam, medali, dan mewakili Indonesia di   olimpiade Internasional.  Aku mengerjap-ngerjapkan   mata, berusaha untuk tidak mengeluarkan air mata. Selama ini aku dibully, diejek karena kekurangan fisikku,tapi akhirnya bisa kubuktikan…..
***
   Paris di Prancis. Sebuah kota yang terkenal,  disebut dengan kota Mode. Semua mode di berbagai Negara berkiblat di sana. Dan  kini, aku berada di Paris. Menghadiri acara olimpiade tingkat Internasional   mewakili Indonesia. Paris, sebuah kota yang aku dan Papa Mama impikan setelahkota Mekkah. Saat hidup, Aku,Papa, dan Mama hanya bisa ke Mekkah saja,melaksanakan umrah. Tapi, belum sampai ke Paris.
  Ma, Pa… aku cinta Mama dan Papa. Tapi, bagaimana aku ekspresikan cintaku  ini? Andai saja mama dan papa masih ada, batinku.
  “Ma, suatu saat nanti pasti aku,Papa, dan Mama bisa bermain di pelangi itu. Di sana kita juga menari dan berbagi banyakhal,” seakan terdengar suara seseorang. Kalimatnya mirip apa yang kukatakan  ketika aku berumur tiga tahun. Mungkin, sekarang aku berada di pelangi. Pelangi kehidupan dan ini puncaknya. Kesuksesanku untuk mewakili Indonesia. Tapi, kalau ini diartikan sebagai pelangi, mungkin kurang sempurna. Pelangi tanpa warna tepatnya. Karena, tidak ada Mama dan Papa di sampingku..

Friday, April 3, 2015

Pedang Penusuk Jiwa

Ditulis oleh: Muhammad Rafid Nadhif Rizqullah (Penulis KKPK)
27 March at 11:17 


Ckiiit! Bruk.
 Tatapan mataku seketika menjadi buram. Ingin rasanya berteriak, memberitahu kepada seluruh dunia, bahwa aku sakit luar biasa. Lama-lama, dunia menjadi gelap. Suara indah seketika sirna. Dan kini, tak ada lagi yang bisa kuceritakan padamu tentang sekelilingku. Karena semuanya, seakan lenyap.
***
     Kecelakaan kala itu membuat hidupku berubah. Mataku menjadi buta karenanya. Tak hanya fisikku yang berubah, tapi rasa sayangku pada Mama berubah. Dulu yang kuanggap sebagai malaikat hidupku, kini tak lagi berarti apa-apa. Aku sangat benci pada Mama. 
  “Huh, Mama nyetir mobilnya enggak bener. Gara-gara Mama, aku jadi buta gini. Atau, Mama malah sengaja maungebunuh aku,” gumamku. Teringat kembali detik-detik peristiwa buruk dalam hidupku. Ya, detik-detik kecelakaan yang menimpaku. Bersamaan dengan itu, suara langkah kaki terdengar. Semakin lama, suara itu semakin terdengar. Siapa ya,itu?
   “Nayla, sayang… sekarang makan yuk,” ucap seseorang. Bertepatan dengan itu, suara langkah tak terdengar lagi. Itu tandanya, suara langkah kaki itu adalah suara langkah orang yang sekarang berada di dekatku! Ah, itu Mama! Aku menggeleng kuat.
   “Ayolah, Nay. Makan ya?”
“Kenapa sih, Mama maksa gitu? Apa jangan-jangan Mama mau ngeracunin aku ya? Memanfaatkan keadaan. Sekarang kan aku buta, jadi Mama bisa ngeracunin atau ngerjain aku sesuka hati,” balasku ketus. Mau bagaimana lagi? Aku sudah terlanjur kesal sama Mama.
   “Enggak kok sayang,” terdengar suara lembut yang menggetarkan jiwaku. Mama…., batinku. Kasihan juga ya, Mama. Kan Mama yang udahmengandungku dengan rasa sakit yang luar biasa, melahirkanku, dan merawatku.Apalagi sekarang Papa udah enggak ada, jadi Mama yang mencari nafkah, lanjutku membatin. Eh, tapi… apa suara lembut itu hanya rekayasa agar aku bisa makan itu? Keterlaluan. Aku meraba-raba. Segera saja aku pecahkan mangkuk yang dibawa Mama. Pyaaaar! 
  Sepertinya mangkuk itu pecah. Biarlah.Biar Mama yang membereskannya. Beberapa detik kemudian, terdengar suarateriakan dan tangisan. Aku mengabaikannya dan bergegas tidur.
***
      Pagi ini, aku ditugaskan oleh Tante Nisa untuk membereskan gudang. Mungkin kamu heran, mengapa aku bisa disuruh membereskan gudang. Karena, dua minggu yang lalu, aku sudah dioperasi. Ada seseorang yang mendonorkan matanya untukku. Jadi, sekarang aku bisa melihat semuanya. Sambil beres-beres, aku bersenandung ceria.
  “Mungkin Mama benar-benar tidak sayang padaku. Masa, oranglain rela mendonorkan matanya untukku, tapi Mama malahenak-enakan ke Singapura? Pake menitipkan aku kepada Tante Nisa lagi,” ucapku. Eh, buku diary siapa itu? Apa itu diaryku dulu? Karena penasaran, aku segera membukanya. Di halaman terakhir….
  
  Hari ini aku benar-benar sedih. Anakku yang dulu adalah penyejuk jiwa, sekarang seakan menjadi pedang penusuk jiwa. Kemarin, ia berkata padaku dengan ketus danmemecahkan mangkuk yang kubawa. Ketika aku hendak mengambil kain pel, telapak kakiku terkena pecahan mangkuk itu. Darah mengalir dengan banyaknya, hingga akuberada di sini, rumah sakit. 
  Sebenarnya aku tidak ingin di siniterus, karena aku kangen anakku. Meskipun anakku telah membuat jiwaku terluka,tapi aku sangat sayang. Bahkan aku semakin sayang. Hmm, besok, aku ingin mendonorkan mataku untuk Nayla. Agar bidadari kecilku bisa melihat dunia dengan senyuman indahnya.
     --Syfa---
  
“Jadi…?” aku tak percaya. “Iya, benar. Pendonoran mata itu membuat Mamamu meninggal. Kak Syfa alias almarhumah Mamamu berpesan sebelum mendonorkan matanya pada Tante, agar Tante menghibur kamu. Begitu. Dankamu tahu, Mamamu sebenarnya menangis tiada henti memikirkanmu,” cerita TanteNisa. Mulai dari situ, tangisanku meledak. “Ma, aku cinta Mama,” bisikku pelan di antara tangisku.

Friday, March 20, 2015

Satu Titik Beribu Tanya

Ditulis oleh Muhammad Rafid Nadhif Rizqullah (Penulis KKPK)
20 March 2015 at 13:36

Suara khas ringtone handphoneku terdengar. Ternyata ada pesan dari Humayra, temanku. Kabarnya, Flanela dirawat di rumah sakit. Segera saja, aku berdiri dan berjalan meninggalkan kamar Abi. 
  “Nak… mau ke mana?” tanya Ayah lemah.Tanpa menoleh, aku menjawab bahwa aku akan pergi. “Sheila, tolong jangan pergi,” semakin lama suara Ayah semakin pelan. Aku mengabaikannya. Aku harus segera menjenguk Flanela, agar aku bisa masuk Surga. Dengan menebarkebaikan-kebaikan, bukankah itu juga salah satu cara untuk masuk Surga, kan?
   
   Aku sampai di rumah Flanela dengan membawa buah-buahan. Walaupun sedikit, tapi mungkin bermanfaat. Lagipula, uangku tidak cukup untuk membeli satu paket buah-buahan yang mahal itu. 
  “Flanela, kamu cepat sembuhya. Aku selalu do’ain kamu kok! Tenang aja,” ujarku seraya tersenyum. Sirat bahagia di wajah Flanela belum terpancar. Tanpa ba-bi-bu lagi, aku segera mengeluarkan lelucon agar Flanela tertawa. Tanpa terasa, jam sudah menunjukkan pukul 06.30 sore waktu Indonesia Barat. Arak-arakan langit senja sudah mulai terlihat, membuat orang yang melihatnya terpesona. “Sheila, pulang yuk!” ajak Humayra. Aku menggeleng. Akhirnya,Humayra pulang terlebih dahulu.
   
  Kriing! Kring! Telepon berbunyi,lantas Mama Flanela segera mengangkatnya. Selesai berbicara via telepon, Mama Flanela menuju kamar anaknya. “Innalillahi. Sheila, ada kabar buruk. Ayah Sheila……. Meninggal,” beritahu Mama Flanela. Begitu kagetnya aku. Innalillahi! Ayah? Aku membatin. Karena sedih sekali, aku segera pulang. Sampai di rumah, aku menangis. Menumpahkan semua yang dirasakan olehku. Setiap do’a terus dilantunkan. Dan aku berharap, semoga keajaiban datang. Akan tetapi, takdir tetaplah takdir. Nasi sudah menjadi bubur. Aku sangat terpukul atas kejadian itu. Angin pelan yang masuk dari jendela seakan membelaiku lembut. Dari situaku tersadar. Kunci masuk Surga tidak harus jauh-jauh dan capek-capek. Aku cukup menghormati dan menyayangi orangtua. Mengapa aku mengabaikan kata-kata Ayah tadi?
   
   Gerak semu harian, pengaruh dari rotasi bumi terlihat di langit senja yang menawan. Penyesalan memang selalu ada di akhir. Aku menatap Bundadi antara kerumunan orang-orang yang turut berduka cita. Aku jadi teringat bermilyaran jasa dan kasih sayang Bunda. Kini, aku harus melakukan apapun demi Bunda. Sebelum aku menyesal kelak. Sekarang aku harus fokus pada satu titik yang menimbulkan berjuta tanya. Satu titik yang harus kujalani, berjuta tanya harus kujawab dan kubuktikan. Ayah, maafkan aku. Tapi aku benar-benar cinta Ayah karena Allah. Maafkan Sheila tadi,ya Yah…, batinku seraya mengusap air mataku. Aku berusaha tersenyum. Memangbena ternyata. Di balik kejadian pasti ada hikmah. Itu bukan  kalimat klise, namun sudah terbukti benar. Danh ikmah yang dapat kuambil sekarang, aku harus cinta dan sayang kepada orangtua,berbakti kepada orangtua agar masuk Surga dan sukses dunia akhirat. Karena,ridha Allah swt adalah ridha orang tua juga.
  
   *Cerita ini diambil dari kisah nyata teman penulis dengan sedikit perubahan dan sudut pandang yang berbeda.