Showing posts with label #Renungan. Show all posts
Showing posts with label #Renungan. Show all posts

Wednesday, April 8, 2015

Pelangi Tanpa Warna


 Papa. Yups, Papa seorang nelayan dan Mama adalah seorang ibu rumah tangga. Aku sangat menyayangi Papa dan Mama.
  Mataku berkelana, mencari sesuatu. Sesuatu yang tak kunjung muncul. Sesuatu yang sangat kutunggu-tunggu. Mengapa tidak ada pelangi? Bukankah pemandangan pagi itu indah, apalagi dihiasi pelangi. Pasti tambah indah.
  “Ma, suatu saat nanti pasti aku,Papa, dan   Mama bisa bermain di pelangi itu. Di sana kita juga menari dan berbagi banyak  hal,” ujarku seraya menerawang ke masa depan.
***
    Pelangi muncul di bentangan langit yang sangat luas. Begitu indah mempesona, namun suskses membuatku mengeluarkan air   mata. Teringat kembali kenangan kelam itu. Ketika tsunami Aceh melanda padatahun 2004. Tsunami itu merampas nyawa kedua orangtuaku. Sampai sekarang, tahun 2015, Papa belum ditemukan.

    Waktu itu, aku masih ingat. Di posko tsunami, Mama tergeletak lemah. Aku yang ada di sampingnya tak bisa apa-apa. Hanya menangis. Karena kaki kiriku, harus diambil karena kalau tidak diambil dapat menyebar ke seluruh badanku. Pasti kau bertanya-tanya. Mengapa bisa begitu? Kakiku mati rasa karena tsunami. Dan pada saat itu, ketika aku menengok ke arah Mama, ia berkatapelan, “Nurul, pasti nak. Kita bisa bermain,menari, dan berbagi banyak hal di pelangi,”

   Pada saat aku berkata akan bermain di pelangi, umurku belum genap empat tahun.
 “Dan, juara pertama diraih oleh…… Nurusysyfa  Al-Kautsari dari Aceh,” suara mc  membuyarkan lamunanku. Aku celingak-celinguk.  Suara tepuk tangan menggema, membuat pertanyaanku tidak terjawab.
  “ Nurul, kamu menang.” Beritahu Alya,finalis olimpiade IPA dari Sulawesi Tenggara. Sungguh tidak percaya aku. Sambil  terus memanjatkan syukur, aku maju ke depan panggung. Mataku melihat setiap    sudut yang ada di depanku. Semua finalis-finalis itu bertepuk tangan. Aku akhirnya bisa mendapatkan piala,uang,piagam, medali, dan mewakili Indonesia di   olimpiade Internasional.  Aku mengerjap-ngerjapkan   mata, berusaha untuk tidak mengeluarkan air mata. Selama ini aku dibully, diejek karena kekurangan fisikku,tapi akhirnya bisa kubuktikan…..
***
   Paris di Prancis. Sebuah kota yang terkenal,  disebut dengan kota Mode. Semua mode di berbagai Negara berkiblat di sana. Dan  kini, aku berada di Paris. Menghadiri acara olimpiade tingkat Internasional   mewakili Indonesia. Paris, sebuah kota yang aku dan Papa Mama impikan setelahkota Mekkah. Saat hidup, Aku,Papa, dan Mama hanya bisa ke Mekkah saja,melaksanakan umrah. Tapi, belum sampai ke Paris.
  Ma, Pa… aku cinta Mama dan Papa. Tapi, bagaimana aku ekspresikan cintaku  ini? Andai saja mama dan papa masih ada, batinku.
  “Ma, suatu saat nanti pasti aku,Papa, dan Mama bisa bermain di pelangi itu. Di sana kita juga menari dan berbagi banyakhal,” seakan terdengar suara seseorang. Kalimatnya mirip apa yang kukatakan  ketika aku berumur tiga tahun. Mungkin, sekarang aku berada di pelangi. Pelangi kehidupan dan ini puncaknya. Kesuksesanku untuk mewakili Indonesia. Tapi, kalau ini diartikan sebagai pelangi, mungkin kurang sempurna. Pelangi tanpa warna tepatnya. Karena, tidak ada Mama dan Papa di sampingku..

Wednesday, March 11, 2015

[Hikmah 10] Mata Ayah

Ini adalah kisah mencengangkan dari seorang remaja kurus kering yang sangat mencintai sepakbola dari lubuk hatinya yang paling dalam. Remaja tersebut sangat serius mengikuti latihan demi latihan. Namun karena kondisi fisiknya yang jauh lebih kecil dari anak sebayanya, maka remaja tersebut tak jua menjadi atlit. Pada setia pertandingan, remaja tersebut hanya duduk di bangku cadangan dan hampir tak pernah turun ke lapangan.

Remaja tersebut hidup hanya berdua saja dengan ayahnya. Dan kedua orang tersebut punya hubungan yang sangat istimewa. Meskipun sang anak selalu duduk di bangku cadangan, ayahnya selalu siap mengelu-elukan dirinya. Dia tak pernah ketinggalan untuk hadir dalam setiap pertandingan.

Anak muda tersebut tetaplah yag terkecil di kelasnya saat ia memasuki bangku SMA. Namun sang ayah tetap menyemangati dirinya dan menyatakan bahwa remaja tersebut tak perlu bermain sepakbola jika ia tak menginginkannya.

Tetapi anak muda tersebut sungguh menyukai sepakbola dan memutuskan untuk bertahan. Ia memutuskan untuk bekerja keras dalam setiap latihan, dan mungkin ia mendapatkan kesempatan bermain saat berada di kelas yang lebih tinggi. Sepanjang masa di SMA ia tak pernah ketinggalan waktu latihan atau pertandingan meski selalu berada di bangku cadangan selama tiga tahun.

Ayahnya yang setia selalu menenami, selalu punya kata-kata untuk menyemangatinya. Saat anak muda tersebut masuk perguruan tinggi, ia memutuskan untuk mencoba bergabung dalam klub sepakbola sebagai calon pemain. Semua orang mengira ia akan gagal namun, anak muda tersebut berhasil lolos. Pelatihnya selalu memasukkan anak muda tersebut ke dalam daftar pemain karena anak muda tersebut selalu berlatih dengan tekun dan sepenuh hati, serta pada saat yang bersamaan memberi semangat dan dukungan pada anggota tim yang memang sangatlah dibutuhkan.

Berita tersebut sangat menggembirakan dirinya sehingga pemuda tersebut segera menelpon ayahnya untuk mengabarkan berita baik tersebut. Sang ayah berbagi kebahagiaan tersebut dan menerima kiriman tiket untuk menonton pertandingan di sepanjang musim permainan di perguruan tinggi tersebut.

Pemuda yang tekun tersebut tak pernah ketinggalan jadwal latihan selama empat tahun masa perkuliahan, namun ia tak pernah mendapatkan kesempatan untuk bertanding. pertandingan semi final di tahun keempat tersebut, si pemuda itu menghampiri sang pelatih sambil menyodorkan hpnya yang berisi pesan singkat yang baru saja diterimanya.

Dengan mata berkaca-kaca, pemuda tersebut berkata lirih, "Ayahku meninggal pagi ini. Bolehkah aku izin untuk tidak mengikuti latihan hari ini?". Sang pelatih merangkul bahu pemuda tersebut dan berkata, "Kau bisa meninggalkan latihan selama seminggu, anakku. Dan tak perlu untuk merencanakan kembali mengikuti pertandingan pada hari sabtu ini."

Pada hari sabtu pertandingan berlangsung dengan buruk. Di awal pertandingan babak pkedua, pemuda tersebut dengan diam-diam masuk ke dalam ruang ganti dan mengenakan seragamnya. Saat pemuda itu duduk di bangku cadangan, pelatih dan anggota timnya terperanjat melihat kawannya sudah kembali. "Pelatih, izinkan aku bermain. Aku harus bertanding hari ini," ujar pemuda tersebut. Sang pelatih pura-pura tak mendengarnya. Tak mungkin ia memasukkan pemain terburuk dalam pertandingan semi final. Namun pemuda tersebut berkeras, dan karena merasa kasihan pada pemuda tersebut, akhirnya sang pelatih menyerah. "Baiklah," katanya. "Kau bisa masuk lapangan hijau."

Tak lama kemudian si pelatih, para pemain dan semua orang di lapangan tersebut tak mempercayai pandangan mereka. Pemuda bertubuh kecil yang tak pernah masuk lapangan hijau bermain dengan baik. Tim lawan tak dapat menghentikannya. Dia berlari, mengoper bola, menghalangi dan menendang bola layaknya seorang bintang. Anggota timnya mulai merasa bahwa mereka mungkin akan menang. Skor pertandingan menjadi berbeda tipis. Di akhir pertandingan babak kedua, pemuda tersebut menerima operan bola di dekat kotak pinalti dan mengarahkan tendangan bola ke gawang lawan. Goooollll!!!

Terdengar sorak sorai para pendukung tim tersebut. Para anggota tim mendukungnya di atas bahu mereka. Sungguh sebuah elu-elu yang tak biasanya kau dengar. Akhirnya setelah mereka kembali ke ruang ganti dan sebagian besar pergi mandi, sang pelatih melihat pemuda tersebut duduk sendiri dengan tenang di sudut ruangan. Pelatih mendatanginya dan berkata, "Nak, aku sungguh tak mempercayainya. Kamu luar biasa! Katakan padaku kau kerasukan apa? Bagaimana kau melakukannya?"

Pemuda itu menatap sang pelatih dengan mata berkaca-kaca lalu berkata, "Anda tahu bahwa ayahku telah meninggal, namun apakah kau sadari bahwa ayahku buta?". Pemuda tersebut menelan ludah dan memaksakan sebuah senyuman, "Ayahku selalu hadir dalam setiap pertandingan akan tetapi hari ini untuk pertama kalinya ia dapat melihatku bertanding dan aku ingin menunjukkan padanya bahwa aku dapat melakukannya."

Layaknya ayah si atlet tersebut, Allah selalu hadir menyemangati kita. Allah selalu mengingatkan kita untuk terus maju. Allah selalu memberikan apa yang kita butuhkan bukan apa yang kita inginkan. Allah tak pernah melewati setiap waktu dalam hidup kita. Maka berlaku dan bertindaklah selalu atas nama-Nya.

Disarikan dari berbagai sumber

Tuesday, March 10, 2015

[Hikmah 9] Piring Kayu

Seorang pria tua tinggal bersama anak lelakinya, menantu dan cucu lai-laki berusia 4 tahun. Tangan pria tua tersebut bergetar, pandangannya kabur dan langkahnya tertatih-tatih.

Keluarga tersebut makan malam bersama di meja makan. Namun tangan lelaki tua yang gemetar tersebut dan pandangan matanya yang buruk membuatnya kesulitan untuk makan. Nasi berceceran di lantai. Saat ia meraih gelas seringkali teh tumpah di atas taplak meja.

Anak lelaki dan menantunya menjadi sangat kesal karena kekacauan yang terjadi. "Kita harus melakukan sesuatu mengenai kondisi ayah," kata si anak yang merasa lelah atas konisi tersebut. Lalu pasangan suami istri tersebut menyiapkan meja kecil di pojok ruangan. Disanalah pria tua tersebut makan sendirian sementara anggota keluarga yang lain menikmati makan di meja makan. Karena pria tua itu sering memecahkan peralatan makan maka makanannya dihidangkan dengan piring kayu. Terkadang saat anggota keluarga melirik ke arah pria tua tersebut, nampak air mata meleleh saat makan dalam kesendiriannya.

Namun, kata-kata yang terucap dari pasangan tersebut hanyalah teguran keras tatkala menjatuhkan sendok atau makanannya tercecer. Anaknya yang berusia 4 tahun hanya mengamati dalam diam.

Pada suatu hari menjelang makan malam, si ayah mendapati anak lelakinya bermain dengan potongan kayu di lantai. Dia bertanya dengan lembut pada anaknya, "Apa yang sedang kamu buat?"

Dengan manis anak tersebut menjawab, "Oh, aku sedang membuat piring kayu untuk alas makan papa dan mama." Anak berusia 4 tahun tersebut tersenyum dan kembali bekerja.

Kata-kata anak tersebut menggetarkan kedua orangtuanya hingga tak bisa bicara. Kemudian air mata mereka mengalir di pipi. Meskipun tak ada kata terucapkan, keduanya tahu apa yang harus dilakukan. 

Malam itu sang suami meraih tangan lelaki tua tersebut dan mengajaknya kembali me meja makan. Sejak saat itulah ia menikmati makannya bersama seluruh anggota keluarga. Dan untuk alasan yang tak dijelaskan, pasangan suami istri tersebut nampak tak perduli lagi tatkala sendok terjatuh, teh yang tertumpah atau taplak meja yang kotor.

Disarikan dari berbagia sumber

Monday, March 9, 2015

[Hikmah 8] Mawar Untuk Ibu

Seorang pria berhenti di sebuah toko bunga untuk memesan buket bunga mawar untuk dikirimkan pada ibunya yang tinggal sejauh 100 km dari dirinya. Saat ia keluar dari mobilnya, ia melihat seorang anak perempuan duduk di tikungan dan menangis terisak-isak.

Ia menanyakan ada masalah apa dan anak perempuan tersebut menjawab, "saya ingin membeli setangkai mawar merah untuk ibuku. Namun aku hanya punya Rp 7500,- sementara setangkai mawar seharga Rp 20.000,-'

Pria tersebut kemudian tersenyum dan berkata, "Ikutlah bersama. Aku akan belikan setangkai mawar untukmu." Pria itu kemudia membelikan bunga mawar untuk anak perempuan itu dan memesan buket bunga mawar untuk ibunya.

Saat mereka meninggal toko bunga, pria tersebut menawarkan untuk mengantarkan anak tersebut pulang ke rumah. Si anak perempuan berkata, "Tentu saja. Anda bisa mengantarkanku menemui ibuku."

Anak perempuan itu mengarahkan pria tersebut ke sebuah pemakaman dimana anak tersebut meletakkan mawar di atas kuburan yang nampak masih baru. Tak lama kemudian pria tersebut kembali ke toko bunga, membatalkan pesanan pengiriman buket bunga mawar, membawanya berkendara sejauh 100 km menuju rumah ibunya.

Disarikan dari berbagai sumber

Saturday, March 7, 2015

[Hikmah 7] Pengorbanan Seorang Ibu

Ibuku hanya memiliki satu mata. Aku membencinya karena ini adalah hal yang memalukan. Ibuku menjalankan sebuah toko kecil pada sebuah pasar. Dia mengumpulkan barang-barang bekas dan sejenisnya untuk dijual, apapun untuk mendapatkan uang yang kami butuhkan.

Pada suatu hari di sekolah. Aku ingat saat itu hari ketika ibuku datang. Aku sangat malu. Mengapa ia melakukan hal ini kepadaku? Aku memalingkan muka dengan rasa benci dan berlari. Keesokan harinya di sekolah. “Ibumu hanya memiliki satu mata?” dan mereka semua mengejekku.

Aku berharap ibuku menghilang dari dunia ini sehingga aku berkata kepada ibuku,”Ibu, kenapa kamu tidak memiliki mata lainnya? Ibu hanya akan menjadi bahan tertawaan. Kenapa Ibu tidak mati saja?” Namun ibu tidak menjawab. Aku merasa sedikit buruk, tetapi pada waktu yang sama, rasanya sangat baik karena aku telah mengatakan apa yang ingin aku katakan selama ini. Mungkin itu karena ibu tidak menghukumku, tetapi aku tidak berpikir bahwa aku telah sangat melukai perasaannya.

Malam itu, aku terbangun dan pergi ke dapur untuk mengambil segelas air. Ibuku menangis disana, dengan pelan, seakan ia takut bahwa ia akan membangunkanku. Aku melihatnya, dan pergi. Karena perkataanku sebelumnya kepadanya, ada sesuatu yang mencubit hati aku. Meskipun demikian, aku membenci ibuku yang menangis dari satu matanya. 

Jadi, Aku mengatakan pada diriku sendiri jika aku tumbuh dewasa nanti harus menjadi sukses, karena aku membenci ibu bermata-satu aku dan kemiskinan kami. Lalu aku belajar dengan keras. Aku pergi meninggalkan ibu dan ke Jakarta untuk belajar, serta diterima di universitas ternama dengan penuh kepercayaan diri. 

Kemudian aku menikah dan membeli rumah milikku sendiri. Lalu aku memiliki anak-anak juga. Sekarang, aku hidup bahagia sebagai seorang pria yang sukses. Aku menyukainya karena disini adalah tempat yang tidak meningatkan aku akan ibu.

Kebahagiaanku yang besar dan semakin besar berubah tatkala secara tak terduga seseorang menjumpai aku, “Apa?! Siapa ini?" Ia adalah ibuku, tetap dengan satu matanya. Rasanya seperti seluruh langit runtuh menimpaku. Anak perempuanku lari ketakutan melihat mata ibuku.

Dan aku bertanya kepadanya, “Siapa Anda? aku tidak mengenalmu!!” begitulah aku sandiwara. Aku berteriak kepadanya “Mengapa engkau berani datang ke rumah aku dan menakuti anakku! Pergi dari sini sekarang juga!”

Dan ibu dengan pelan menjawab, “Oh, maafkan aku. aku pasti salah alamat,” dan diapun berlalu. Aku mengatakan kepada diriku bahwa aku tidak akan peduli atau berpikir tentang hal ini sepanjang sisa hidupku.

Suatu hari, sebuah surat mengenai reuni sekolah datang ke rumahku. Aku berbohong kepada istri dan mengatakan bahwa aku akan pergi melakukan perjalanan bisnis. Setelah reuni ini, aku mengunjungi rumah lamaku karena rasa penasaran saja.

Di sana aku menemukan ibu aku terbaring kaku di tanah yang dingin. Tetapi aku tidak dapat mengalirkan setetes air matapun. Dalam genggaman tangan terdapat selembar kertas, surat untukku.

Inilah isi suratnya:

Anakku,
Aku pikir saat ini aku hidup sudah cukup lama. Dan aku tidak akan mengunjungi Jakarta lagi tetapi apakah permintaanku terlalubanyak jika aku ingin kamu sesekali datang mengunjungiku, nak? Aku sangat merindukanmu. Dan aku sangat lega ketika mendengar kamu akan datang dalam reuni sekolah.

Tetapi aku memutuskan untuk tidak datang ke sekolah. Kepadamu aku meminta maaf karena hanya memiliki satu mata dan mempermalukan dirimu. Tahukah kamu, saat kamu masih kecil, kamu mengalami kecelakaan, dan kehilangan satu matamu. Sebagai seorang ibu, aku tidak tahan melihatmu harus tumbuh dengan hanya satu mata. Sehingga aku memberikan sebuah mataku. Aku sangat bangga kepada anakku dapat melihat dunia yang baru untukku, menggantikan aku, dengan mata itu.

Aku tidak pernah marah kepadamu atas apapun yang kamu lakukan. Beberapa kali saatkamu marah kepadaku. aku membatin,” hal ini karena kamu mencintai aku.” Aku merindukan saat kamu masih kecil dan berada di sekitarku. Aku sangat merindukanmu. Aku mencintaimu. Kamu adalah duniaku.

Usai membaca surat tersebut, si anak tak kuasa menahan derai air matanya.Dipeluk tubuh kaku ibunya, sambil terisak ia berucap, "Maafkan aku ibu....maafkan, aku justru mengejek pengorbananmu. Bukalah matamu, bu. Pulanglah bersamaku."

Namun sayang, penyesalan selalu datang terlambat. 

Disarikan dari berbagai sumber

Friday, March 6, 2015

[Hikmah 6] Berterima kasih pada Orangtua

Seorang anak bertengkar dengan ibunya dan pergi meninggalkan rumah. Saat berjalan ia baru menyadari bahwa ia sama sekali tidak membawa uang. Ia melewati sebuah kedai bakmi. Ia ingin sekali memesan semangkok bakmi karena lapar.

Pemilik bakmi melihat anak tersebut berdiri cukup lama di depan kedainya, lalu bertanya ”Nak, apakah engkau ingin memesan bakmi?”
“Ya, tetapi aku tidak membawa uang,” jawab anak itu dengan malu-malu.
”Tidak apa-apa, aku akan mentraktirmu,” jawab si pemilik kedai.

Anak itu segera makan. Kemudian air matanya mulai berlinang.
”Ada apa Nak?” tanya si pemilik kedai.
”Tidak apa-apa, aku hanya terharu karena seorang yang baru kukenal memberi aku semangkuk bakmi tetapi ibuku sendiri setelah bertengkar denganku, mengusirku dari rumah. Kau seorang yang baru kukenal tetapi begitu peduli padaku."

Pemilik kedai itu berkata ”Nak, mengapa kau berpikir begitu? Renungkan hal ini, aku hanya memberimu semangkuk bakmi dan kau begitu terharu. Ibumu telah memasak dan memberikan makan kamu, memelihara kamu dengan penuh kasih sayang sampai kamu dewasa, harusnya kamu lebih berterima kasih kepadanya."

Anak itu kaget mendengar hal tersebut dan merenung. Mengapa aku tidak berpikir tentang hal itu? Untuk semangkuk bakmi dari orang yang baru kukenal aku begitu berterima kasih, tetapi terhadap ibuku yang memasak untukku dan memelihara selama bertahun-tahun, aku bahkan tidak peduli.

Anak itu segera menghabiskan bakminya lalu ia menguatkan dirinya untuk segera pulang. Begitu sampai di ambang pintu rumah, ia melihat ibunya dengan wajah letih dan cemas. Ketika melihat anaknya, kalimat pertama yang keluar dari mulutnya adalah “Nak, kau sudah pulang, cepat masuk, aku telah menyiapkan makan malam.”
Mendengar hal itu, si anak tidak dapat menahan isaknya dan iapun menangis di hadapan ibunya.

Kadang kita mungkin akan sangat berterima kasih kepada orang lain untuk suatu pertolongan kecil yg diberikannya pada kita. Namun kepada orang yang sangat dekat dengan kita (keluarga) khususnya orang tua kita, kita sering melupakannya begitu saja.
Semoga bermanfaat.

Disarikan dari berbagai sumber

Thursday, March 5, 2015

[Hikmah 5] Melamar Pekerjaan

Seorang lulusan perguruan tinggi yang masih muda dan cerdas melamar untuk posisi manajerial disebuah perusahaan besar. Dia lulus pada interview tahap pertama, dan tahap selanjutnya adalah interview dengan jajaran direksi.

Sang direktur menemukan prestasi-prestasi cemerlang anak muda tersebut pada masa sekolah hingga kuliahnya. Melihat prestasi-prestasi tersebut, sang direktur pun bertanya: “Apakah Anda menerima beasiswa untuk biaya sekolah dan kuliah?”.

Anak muda itu menjawab : “Tidak pak….!”
Direktur bertanya lagi : “Apakah ayah Anda yang membayar biaya sekolah Anda?”.
Anak muda itu menjawab : “Ayah saya telah meninggal dunia ketika saya baru berumur satu tahun. Seluruh biaya sekolah saya dibayarkan oleh Ibu saya..”

Lalu Direktur bertanya lagi : “Di mana ibumu bekerja?”
Dan anak muda itu menjawab : “Ibu saya bekerja sebagai seorang pencuci pakaian…”
Direktur itu meminta anak muda tersebut untuk menunjukkan tangannya. Dan anak muda itu memperlihatkan kedua tangannya yang sempurna dengan telapak tangan yang sangat halus.

Melihat itu Direktur bertanya lagi : “Pernahkah Anda membantu ibu Anda mencuci pakaian sebelumnya?”
Anak muda itu menjawab : “Tidak pernah pak. Ibu saya selalu menginginkan saya belajar dan membaca banyak buku. Lagi pula, Ibu mencuci baju jauh lebih cepat ketimbang saya”.
Direktur tersebut kemudian berkata : “Saya punya satu permintaan. Sekarang anda pulang dan ketika nanti anda sampai di rumah, cuci dan bersihkan tangan ibumu, kemudian temui saya besok pagi”.

Anak muda tersebut merasa kesempatannya mendapat pekerjaan tersebut sangat besar. Karena itu ketika dia sampai di rumah, dengan begitu gembira ia meminta izin kepada ibunya agar ia boleh mencuci tangan beliau.

Ibunya merasa sedikit asing, aneh, juga bahagia dan perasaan-perasaan lainnya bercampur jadi satu. Sang Ibu kemudian memberikan kedua tangannya kepada sang anak. Lalu anak muda tersebut membersihkan tangan Sang Ibu dengan perlahan.

Airmatanya mulai menetes saat itu. Ini pertama kalinya ia menyadari bahwa tangan ibunya sudah penuh dengan kerutan, dan terdapat banyak memar dan kapalan di sana sini . Beberapa memar sepertinya terasa begitu sakit, sampai-sampai Sang Ibu menggigil ketika memar tersebut dibersihkan. Ini pertama kalinya anak muda tersebut menyadari bahwa kedua tangan yang sedang dibersihkan inilah yang digunakan Sang Ibu setiap hari untuk mencuci pakaian banyak orang, sehingga Sang Ibu dapat membiayai biaya sekolah anaknya.

Memar-memar dan kapalan yang ada di tangan Sang Ibu adalah harga yang harus dibayar atas kelulusan anak tersebut, atas prestasinya yang luar biasa, dan untuk masa depannya.
Setelah selesai mencuci tangan Sang Ibu, anak muda tersebut diam-diam mencuci sisa baju yang belum sempat dicuci oleh ibunya. Dan malam itu, anak dan ibu tersebut berbincang sangat lama sekali.

Besok paginya, anak muda tersebut bergegas menemui sang direktur. Direktur tersebut menangkap airmata di wajah anak muda tersebut. Ia pun kemudian bertanya : “Bisa Anda ceritakan apa yang telah Anda lakukan kemarin dan apa pelajaran yang Anda dapat dari sana ?”
Anak muda tersebut menjawab : “Saya mencuci tangan Ibu saya, dan kemudian saya menyelesaikan sisa cucian Ibu yang belum tercuci “.

“Tolong ceritakan perasaan Anda ketika itu” ujar Direktur lagi.
Lalu anak muda itu menjawab : ” Pertama, saya sekarang tahu apa arti apresiasi. Tanpa ibu saya, tidak akan pernah ada seorang saya hari ini. Kedua, saya baru menyadari betapa sulit dan beratnya Ibu menjalani pekerjaannya. Dan dengan bekerja membantu Ibu, ternyata pekerjaan itu dapat meringankan beban Ibu. Ketiga, saya datang hari ini untuk mengapresiasi betapa penting dan bernilainya hubungan keluarga”.

Mendengar itu lalu Direktur tersebut berkata : “Inilah yang saya cari dari seorang calon pemimpin. Saya ingin merekrut seseorang yang dapat mengapresiasi dan menghargai bantuan orang lain, seseorang yang tahu persis perjuangan orang lain untuk mengerjakan sesuatu, dan seseorang yang tidak akan menempatkan uang sebagai tujuan hidup satu-satunya. Oleh karena itu mulai hari ini anda diterima bekerja disini…!”.

Disarikan dari berbagai sumber

Wednesday, March 4, 2015

[Hikmah 4] Bohong Kepada Ayah

Pagi itu, Ayah menyuruhku membawa mobil ke bengkel utk cek rutin. Kemudian menjemputnya di kantor jika mobil sudah selesai. Dalam perjalanan ke bengkel, temanku Heni menelpon dan mengajak nonton film. Kebetulan film tersebut dibintangi oleh idolaku. Di antara kebimbangan jadilah kuputuskan nonton dulu baru ke bengkel.

Apa mau dikata, sehabis nonton kami bertemu teman-teman yang lain lalu asyik ngobrol di cafe. Hari sudah sore waktu aku mulai sadar bahwa bengkel pasti sudah tutup. Sepanjang jalan aku sibuk menyusun argumen berbagai alasan yg nanti akan kukatakan pada ayah.
Setibanya di kantor ayah, dengan bimbang aku segera melangkah ke ruangannya.

“Bagaimana mobilnya San, sudah OK?”
Sambil menghindari tatapan ayah, aku menjawab.
“Ayah, kata orang bengkel, besok harus dibawa lagi karena masih ada yg belum beres. Sebenarnya sih tadi harus ditinggal tapi aku memaksa mebawanya pulang karena harus menjemput ayah”.
Sambil melirik pelan-pelan aku menatap ayah.

“Hmm…. mungkin ada yang salah pada cara Ayah mendidikmu selama ini. Karena ternyata kamu tidak mau berkata yang sebenarnya.” 
“Mak…maksud ayah apa……..” Dengan panik aku jadi salah tingkah.
“Baiklah, karena ayah merasa salah dalam mendidikmu maka ayah akan pulang berjalan kaki sambil merenungi apa kesalahan yang telah ayah perbuat!”

Ayah segera melangkahkan kakinya keluar kantor.
“Ayah…… ayah…. jangan begitu”. Aku makin gelisah.
Namun ayah hanya tersenyum. Hari sudah mulai gelap ketika aku mengikuti ayah dari belakang dengan mobil. Kulihat ayah berjalan sambil tertunduk. Hatiku makin galau. Jarak 35 km harus ditempuh ayahku yang sudah berumur 52 tahun itu, membuat air mataku mulai mengaburkan pandanganku. Sudah selama 1 jam 45 menit ayahku berjalan. Batinku berperang dan ada sesuatu di dalam yg terasa menyesakkan dadaku. Segera kuhentikan mobil dan berlari mengejar ayah. Kupeluk ayah dari belakang.

“Ayah…. Maafkan Santi. Tadi Santi memang tidak ke bengkel tapi pergi nonton bersama Heni lalu …”
Aku tak sempat menyelesaikan kalimatku karena tangan Ayah menutup mulutku.
“Ayah sudah tahu ….” Sambil tersenyum Ayah mengelus kepalaku.
Aku yang bingung segera dibimbingnya menuju mobil.
“Sebenarnya tadi siang ayah menelpon ke bengkel, tapi mereka mengatakan mobil belum datang sejak pagi. Nah, ayah hanya ingin kamu mengatakan yang sebenarnya tanpa perlu menceritakan detailnya”

Hingga aku sudah berkeluarga kini, peristiwa itu terus membekas pada diriku. Karena aku tidak pernah lagi membohongi orangtuaku sejak itu. Tak pernah lagi……. Aku bersumpah tidak ingin melihat ayahku menghukum dirinya lagi karena perbuatanku. “Teguran Batin” begitulah aku menyebutnya.

Ternyata cara tersebut lebih dalam bekasnya daripada teguran fisik. Aku membayangkan, jika saja saat itu Ayahku memarahiku dan mendesak dari mana saja aku seharian, mungkin hingga kini aku sudah melakukan sekian puluh kebohongan. Demikian pula dengan anakku.
(Dikutip dari berbagai sumber)

Tuesday, March 3, 2015

[Hikmah 3] Koin Penyok

Seorang lelaki berjalan tak tentu arah dengan rasa putus asa. Kondisi keuangan keluarganya morat-marit. Saat menyusuri jalanan sepi, kakinya terantuk sesuatu. Ia membungkuk dan menggerutu kecewa. 

"Uh, hanya sebuah koin kuno yang sudah penyok."
Meskipun begitu ia membawa koin itu ke bank. "Sebaiknya koin in dibawa ke kolektor uang kuno", kata teller itu memberi saran. Lelaki itu membawa koinnya ke kolektor. Beruntung sekali, koinnya dihargai Rp 300 ribu.

Lelaki itu begitu senang. Saat lewat toko perkakas, dilihatnya beberapa lembar kayu obral. Dia pun membeli kayu tersebut seharga Rp 300 ribu dan beranjak pulang.

Di tengah perjalanan dia melewati bengkel pembuat mebel. Mata pemilik bengkel sudah terlatih tersebut, melihat kayu bermutu yang dipanggul lelaki itu. Dia menawarkan lemari seharga Rp 1 juta untuk ditukar dengan kayu tersebut. Setelah setuju, dia meminjam gerobak untuk membawa pulang lemari itu.

Dalam perjalanan dia melewati sebuah perumahan. Seorang wanita melihat lemari yang indah itu dan menawarnya sebanyak Rp 2 juta. Lelaki itu ragu-ragu. Si wanita tersebut menaikkan tawarannya menjadi Rp 2,5 juta. Lelaki itupun setuju.

Saat sampai di pintu desa, dia ingin memastikan uangnya. Ia merogoh sakunya dan menghitung lembaran bernilai Rp 2,5 juta. Tiba-tiba seorang perampok datang dan mengacungkan belati serta merampas uang itu lalu kabur.

Istrinya kebetulan melihat dan berlari mendekati suaminya kemudian bertanya,
"Apa yang terjadi? Engkau baik-baik saja kan? Apa yang diambil perampok tadi?"

Lelaki itu mengangkat bahunya dan berkata, "Oh, bukan apa-apa. Hanya sebuah koin penyok yang kutemukan tadi pagi".

Bila kita sadar kita tak pernah memiliki apapun, kenapa harus tenggelam dalam kepedihan yang berlebihan? Sebaliknya, sepatutnya kita bersyukur atas segala yang telah kita miliki, karena ketika datang & pergi kita tidak membawa apa-apa. Menderita karena melekat. Bahagia karena melepas.

Karena demikianlah hakikat sejatinya kehidupan, apa yang sebenarnya yang kita punya dalam hidup ini? Tidak ada, karena bahkan napas kita saja bukan kepunyaan kita dan tidak bisa kita genggam selamanya.

Hidup itu perubahan dan pasti akan berubah. Saat kehilangan sesuatu kembalilah ingat bahwa sesungguhnya kita tidak punya apa-apa jadi "kehilangan" itu tidaklah nyata dan tidak akan pernah menyakitkan Kehilangan hanya sebuah tipuan pikiran yang penuh dengan ke"aku"an. Ke"aku"an lah yang membuat kita menderita.

Rumahku, hartaku, istriku, anakku. Lahir tidak membawa apa-apa, meninggal pun sendiri, tidak ajak apa-apa dan siapa-siapa. Pada waktunya siapapun yang bisa melepas, tidak melekat, tidak menggenggam erat maka dia akan bahagia.

Semoga bermanfaat.

Disarikan dari berbagai sumber

Monday, March 2, 2015

[Hikmah 2] Kemiskinan Sebuah Keluarga

Suatu hari seorang ayah yang berasal dari keluarga kaya membawa anaknya melakukan perjalanan keliling negeri dengan tujuan memperlihatkan pada si anak bagaimana miskinnya kehidupan orang-orang di sekitarnya. Mereka lalu menghabiskan beberapa hari di sebuah rumah pertanian yang dianggap si ayah dimiliki keluarga yang amat miskin.
Setelah kembali dari perjalanan mereka, si ayah bertanya pada anaknya “Bagaimana perjalanannya nak?”.
“Perjalanan yang hebat, yah”.
“Sudahkah kamu melihat betapa miskinnya orang-orang hidup?” Si bapak bertanya.
“O tentu saja,” jawab si anak.
“Sekarang ceritakan, apa yang kamu pelajari dari perjalanan itu,” kata si bapak.

Si anak menjawab
"Saya melihat bahwa kita punya satu kucing, tapi mereka punya empat kucing.
Kita punya kolam renang yang panjangnya sampai pertengahan taman kita, tapi mereka punya anak sungai yang tidak ada ujungnya.
Kita mendatangkan lampu-lampu untuk taman kita, tapi mereka memiliki cahaya bintang di malam hari.
Teras tempat kita duduk-duduk membentang hingga halaman depan, sedang teras mereka adalah horizon yang luas.
Kita punya tanah sempit untuk tinggal, tapi mereka punya ladang sejauh mata memandang.
Kita punya pembantu yang melayani kita, tapi mereka melayani satu sama lain.
Kita membeli makanan kita, tapi mereka menumbuhkan makanan sendiri.
Kita punya tembok di sekeliling rumah untuk melindungi kita, sedangkan mereka punya teman-teman untuk melindungi mereka".

Ayah si anak hanya bisa bungkam.
Lalu si anak menambahkan kata-katanya “Ayah, terima kasih sudah menunjukkan betapa MISKIN-nya kita”.

Disarikan dari berbagai sumber

Saturday, February 28, 2015

[Hikmah 1] Harga Air Susu Ibu

Ada seorang ibu ingin meminjam uang kepada anaknya yang telah mapan. Dengan suara rendah disertai rasa malu ibu berkata "Nak, bolehkah ibu meminjam uang 100 ribu? Ibu ada perlu buat beli beras."
Anaknya tidak langsung menjawab, dengan raut muka datar ia berkata "Iya Ma, nanti Aku tanya istriku dulu" seakan berat untuk mengiyakan, karena belum tentu isterinya mengiyakan. 

Ketika Sang Anak masuk ke dalam rumah ia melihat dus susu anaknya masih ada bandrol harga Rp 50.000, kemudian dia merenung. Jika 1 dus habis 1 hari x 30 hari x 2 tahun = 36 juta. Dia berfikir, waktu balita dia hanya diberikan ASI oleh ibunya, harganya tak terhingga, super steril, diberikan dengan penuh kasih sayang. Jika didapat oleh seorang anak selama 2 tahun berapa yang harus ia bayar?? 


Kemudian ia berbalik dan menatap wajah ibunya yang teduh walau telah dimakan usia. Ibu, dirimu telah memberikan semua kasih sayang, harta dan semuanya kepadaku tanpa pamrih, dan semua itu kuterima dgn GRATIS. Maafkan anakmu yg durhaka ini yang tidak tahu balas budi. Segera ia memeluk ibunya dan mengecup keningnya dan memberi uang Rp 3 juta, sambil menangis ia berkata: "Ibu, jangan berkata pinjam lagi yaa, hartaku adalah juga milikmu, do'akan anakmu ini agar selalu berbakti padamu". 


Sambil berkaca-kaca ada air bening di pelupuk mata ibu ia berkata: "Nak, di setiap keadaan ibu selalu berdo'a agar kita semua selalu dikumpulkan di dunia dan di SURGA nanti dalam kebahagiaan." 


Semoga Bermanfaat. Dan bagi PARA ISTRI/SUAMI ingatlah bhw rezeki dari suami/istrimu adalah juga HAK mertuamu. Jika kalian sayang IBU, doakan ibumu. Sayangi dan perlakukan dengan baik. Harap diteruskan agar semua orang tau betapa berharganya seorang ibu. Semoga Allah merahmati dan menyayangi ibu kita serta mengampuni semua dosa-dosanya, Aamiin


Disarikan dari berbagai sumber