Showing posts with label #MizanProductions. Show all posts
Showing posts with label #MizanProductions. Show all posts

Friday, April 3, 2015

Aku Adalah Akar

Ditulis oleh: Queen Aura (Penulis KKPK)
27 March 2015 at 09:53


"Alhamdulillah.." bunda berucap syukur.
Semua yang ada di ruangan itu bertepuk tangan dengan gempita. Aku, adikku dan Ayah tersenyum bangga menyaksikan kakak yang berdiri dengan anggun saat menerima piala kemenangannya.

Ya, kakak kembali menjadi sang juara untuk yang kesekian kalinya. Buat kakak menjadi pemenang itu sudah suatu hal yang mudah. Lemari di rumah pun penuh sesak oleh piala dari berbagai macam jenis perlombaan. 

Di balik perasaan bangga memiliki kakak yang hebat terselip juga sedikit perasaan iri. Bagaimana tidak iri, kalau hal yang sangat sukar bagiku begitu mudah buat dia? Apalagi kalau di mata pelajaran matematika, guruku yang dulunya juga menjadi guru kakak dengan senang hati membandingkan aku dan kakak di hadapan teman sekelasku. Atau pada acara keluarga besar kami ngumpul, semua pasti memuji kakak dan ujungnya lagi-lagi tertuju padaku..

"Wah, Rin begitu hebat! Kamu gimana Ra, belum pernah nih denger si Aira juara apapun heheheheee..." itu hanya satu contoh kalimat yang menusuk-nusuk ulu hatiku.

Tapi, sepertinya pujian itu akan terus mengalir kepada kakak dan juga adik. Sejak adik telah pandai membaca di usia tiga tajun, perkembangannya begitu luar biasa. Barangkali adikku memang termotivasi dari kakak. Dan, lagi-lagi aku akan jadi Aira yang hanya penonton di pinggir panggung. Menyaksikan kakak dan adik yang bersinar dengan prestasinya.

Aku kembali meletakan piala itu ke tempatnya. Hari ini adalah jadwalku membersihkan rumah kami yang mungil. Aku termangu memandang deretan piala itu yang tiga diantaranya punya adik.

"Aira, kok malah melamun?" tiba-tiba bunda sudah asa dekatku.
"Eh, mmm... Bunda, maafin Aira ya belum bisa mwmbanggakan bunda dan ayah seperti kakak dan adik.." kataku dengan lirih
"Siapa bilang, Aira enggak buat bunda dan ayah bangga?" kata bunda penuh senyum
"Tapi kan di lemari ini belum ada piala atas namaku, bunda."
"Hmmm, sayang, piala itu memang buat bangga, tapi bukan satu-satunya kebahagiaan buat bunda dan ayah. Tapi ada yang lebih berarti dari itu semua!" kata bunda mengelus rambutku yang panjang.
"Tapi kan Aira belum bisa membanggakan.."
"Justru bunda sangat bangga pada Aira!"
"Ahh bunda hanya menghibur Aira, kan?"
"Sayang, buat bunda dan ayah memiliki kalian bertiga itu seperti punya sebatang pohon yang kuat!" kata bunda dengan mata bersinar bahagia.
"Maksud bunda?"
"Iya, sebatang pohon yang kuat dan kokoh itu butuh akar yang kuat dan tidak perlu terlihat! Kalau kakak dan adik adalah bunga dan buah yang tampak bagus dan memikat, maka Aira adalah akarnya! Tanpa akar, sebatang pohon jangankan berbunga dan berbuah, tumbuh aja enggak bisa." bunda berkata panjang lebar sambil memelukku erat.

Aku tetap saja butuh waktu yang lama untuk mengerti apa yang dikatakan oleh bunda. Tapi yang jelas sekarang aku senang dan mengerti, kalau aku ternyata juga membanggakan bunda dan ayah meski tanpa piala.

Pedang Penusuk Jiwa

Ditulis oleh: Muhammad Rafid Nadhif Rizqullah (Penulis KKPK)
27 March at 11:17 


Ckiiit! Bruk.
 Tatapan mataku seketika menjadi buram. Ingin rasanya berteriak, memberitahu kepada seluruh dunia, bahwa aku sakit luar biasa. Lama-lama, dunia menjadi gelap. Suara indah seketika sirna. Dan kini, tak ada lagi yang bisa kuceritakan padamu tentang sekelilingku. Karena semuanya, seakan lenyap.
***
     Kecelakaan kala itu membuat hidupku berubah. Mataku menjadi buta karenanya. Tak hanya fisikku yang berubah, tapi rasa sayangku pada Mama berubah. Dulu yang kuanggap sebagai malaikat hidupku, kini tak lagi berarti apa-apa. Aku sangat benci pada Mama. 
  “Huh, Mama nyetir mobilnya enggak bener. Gara-gara Mama, aku jadi buta gini. Atau, Mama malah sengaja maungebunuh aku,” gumamku. Teringat kembali detik-detik peristiwa buruk dalam hidupku. Ya, detik-detik kecelakaan yang menimpaku. Bersamaan dengan itu, suara langkah kaki terdengar. Semakin lama, suara itu semakin terdengar. Siapa ya,itu?
   “Nayla, sayang… sekarang makan yuk,” ucap seseorang. Bertepatan dengan itu, suara langkah tak terdengar lagi. Itu tandanya, suara langkah kaki itu adalah suara langkah orang yang sekarang berada di dekatku! Ah, itu Mama! Aku menggeleng kuat.
   “Ayolah, Nay. Makan ya?”
“Kenapa sih, Mama maksa gitu? Apa jangan-jangan Mama mau ngeracunin aku ya? Memanfaatkan keadaan. Sekarang kan aku buta, jadi Mama bisa ngeracunin atau ngerjain aku sesuka hati,” balasku ketus. Mau bagaimana lagi? Aku sudah terlanjur kesal sama Mama.
   “Enggak kok sayang,” terdengar suara lembut yang menggetarkan jiwaku. Mama…., batinku. Kasihan juga ya, Mama. Kan Mama yang udahmengandungku dengan rasa sakit yang luar biasa, melahirkanku, dan merawatku.Apalagi sekarang Papa udah enggak ada, jadi Mama yang mencari nafkah, lanjutku membatin. Eh, tapi… apa suara lembut itu hanya rekayasa agar aku bisa makan itu? Keterlaluan. Aku meraba-raba. Segera saja aku pecahkan mangkuk yang dibawa Mama. Pyaaaar! 
  Sepertinya mangkuk itu pecah. Biarlah.Biar Mama yang membereskannya. Beberapa detik kemudian, terdengar suarateriakan dan tangisan. Aku mengabaikannya dan bergegas tidur.
***
      Pagi ini, aku ditugaskan oleh Tante Nisa untuk membereskan gudang. Mungkin kamu heran, mengapa aku bisa disuruh membereskan gudang. Karena, dua minggu yang lalu, aku sudah dioperasi. Ada seseorang yang mendonorkan matanya untukku. Jadi, sekarang aku bisa melihat semuanya. Sambil beres-beres, aku bersenandung ceria.
  “Mungkin Mama benar-benar tidak sayang padaku. Masa, oranglain rela mendonorkan matanya untukku, tapi Mama malahenak-enakan ke Singapura? Pake menitipkan aku kepada Tante Nisa lagi,” ucapku. Eh, buku diary siapa itu? Apa itu diaryku dulu? Karena penasaran, aku segera membukanya. Di halaman terakhir….
  
  Hari ini aku benar-benar sedih. Anakku yang dulu adalah penyejuk jiwa, sekarang seakan menjadi pedang penusuk jiwa. Kemarin, ia berkata padaku dengan ketus danmemecahkan mangkuk yang kubawa. Ketika aku hendak mengambil kain pel, telapak kakiku terkena pecahan mangkuk itu. Darah mengalir dengan banyaknya, hingga akuberada di sini, rumah sakit. 
  Sebenarnya aku tidak ingin di siniterus, karena aku kangen anakku. Meskipun anakku telah membuat jiwaku terluka,tapi aku sangat sayang. Bahkan aku semakin sayang. Hmm, besok, aku ingin mendonorkan mataku untuk Nayla. Agar bidadari kecilku bisa melihat dunia dengan senyuman indahnya.
     --Syfa---
  
“Jadi…?” aku tak percaya. “Iya, benar. Pendonoran mata itu membuat Mamamu meninggal. Kak Syfa alias almarhumah Mamamu berpesan sebelum mendonorkan matanya pada Tante, agar Tante menghibur kamu. Begitu. Dankamu tahu, Mamamu sebenarnya menangis tiada henti memikirkanmu,” cerita TanteNisa. Mulai dari situ, tangisanku meledak. “Ma, aku cinta Mama,” bisikku pelan di antara tangisku.

Friday, March 20, 2015

Satu Titik Beribu Tanya

Ditulis oleh Muhammad Rafid Nadhif Rizqullah (Penulis KKPK)
20 March 2015 at 13:36

Suara khas ringtone handphoneku terdengar. Ternyata ada pesan dari Humayra, temanku. Kabarnya, Flanela dirawat di rumah sakit. Segera saja, aku berdiri dan berjalan meninggalkan kamar Abi. 
  “Nak… mau ke mana?” tanya Ayah lemah.Tanpa menoleh, aku menjawab bahwa aku akan pergi. “Sheila, tolong jangan pergi,” semakin lama suara Ayah semakin pelan. Aku mengabaikannya. Aku harus segera menjenguk Flanela, agar aku bisa masuk Surga. Dengan menebarkebaikan-kebaikan, bukankah itu juga salah satu cara untuk masuk Surga, kan?
   
   Aku sampai di rumah Flanela dengan membawa buah-buahan. Walaupun sedikit, tapi mungkin bermanfaat. Lagipula, uangku tidak cukup untuk membeli satu paket buah-buahan yang mahal itu. 
  “Flanela, kamu cepat sembuhya. Aku selalu do’ain kamu kok! Tenang aja,” ujarku seraya tersenyum. Sirat bahagia di wajah Flanela belum terpancar. Tanpa ba-bi-bu lagi, aku segera mengeluarkan lelucon agar Flanela tertawa. Tanpa terasa, jam sudah menunjukkan pukul 06.30 sore waktu Indonesia Barat. Arak-arakan langit senja sudah mulai terlihat, membuat orang yang melihatnya terpesona. “Sheila, pulang yuk!” ajak Humayra. Aku menggeleng. Akhirnya,Humayra pulang terlebih dahulu.
   
  Kriing! Kring! Telepon berbunyi,lantas Mama Flanela segera mengangkatnya. Selesai berbicara via telepon, Mama Flanela menuju kamar anaknya. “Innalillahi. Sheila, ada kabar buruk. Ayah Sheila……. Meninggal,” beritahu Mama Flanela. Begitu kagetnya aku. Innalillahi! Ayah? Aku membatin. Karena sedih sekali, aku segera pulang. Sampai di rumah, aku menangis. Menumpahkan semua yang dirasakan olehku. Setiap do’a terus dilantunkan. Dan aku berharap, semoga keajaiban datang. Akan tetapi, takdir tetaplah takdir. Nasi sudah menjadi bubur. Aku sangat terpukul atas kejadian itu. Angin pelan yang masuk dari jendela seakan membelaiku lembut. Dari situaku tersadar. Kunci masuk Surga tidak harus jauh-jauh dan capek-capek. Aku cukup menghormati dan menyayangi orangtua. Mengapa aku mengabaikan kata-kata Ayah tadi?
   
   Gerak semu harian, pengaruh dari rotasi bumi terlihat di langit senja yang menawan. Penyesalan memang selalu ada di akhir. Aku menatap Bundadi antara kerumunan orang-orang yang turut berduka cita. Aku jadi teringat bermilyaran jasa dan kasih sayang Bunda. Kini, aku harus melakukan apapun demi Bunda. Sebelum aku menyesal kelak. Sekarang aku harus fokus pada satu titik yang menimbulkan berjuta tanya. Satu titik yang harus kujalani, berjuta tanya harus kujawab dan kubuktikan. Ayah, maafkan aku. Tapi aku benar-benar cinta Ayah karena Allah. Maafkan Sheila tadi,ya Yah…, batinku seraya mengusap air mataku. Aku berusaha tersenyum. Memangbena ternyata. Di balik kejadian pasti ada hikmah. Itu bukan  kalimat klise, namun sudah terbukti benar. Danh ikmah yang dapat kuambil sekarang, aku harus cinta dan sayang kepada orangtua,berbakti kepada orangtua agar masuk Surga dan sukses dunia akhirat. Karena,ridha Allah swt adalah ridha orang tua juga.
  
   *Cerita ini diambil dari kisah nyata teman penulis dengan sedikit perubahan dan sudut pandang yang berbeda.

Wednesday, March 18, 2015

Hari Istimewa Di Rumah Sekar

Ditulis oleh Queen Aura (Penulis KKPK)
18 March 2015 at 12:34


"Sekaaaarrr...!"
"Iyaa, apa sih Paa?" Sekar menyahuti panggilan Papa dengan malas. Buku cerita misteri yang ada di tangannya telah sampai di bab yang paling menegangkan. 
"Sekaaaarr..!" panggilan papa terdengar lagi.
"Iyaa, pa." Sekar meletakan bukunya dan berjalan keluar kamar.
"Ada apa, pa?" Sekar bertanya sambil menghampiri papa yang tengah sibuk di dapur rumah mereka.
"Nih, tolong papa ya. Belikan semua yang ada di daftar ini di supermarket depan deh." kata papa mengulurkan secarik kertas yang berisi catatan cukup panjang.
"Buat apa nih, pa? Papa mau masak puding? Juga kue-kue? Trusss..." belum sempat Sekar meneruskan pertanyaannya, papa sudah menyuruh Sekar pergi sambil memberikan uang seratus ribuan.
"Udah, enggal usah bawel, sekarang aja perginya! Hati-hati gowesnya ya." papa berkata sambil meneruskan pekerjaannya.

Sekar heran saja, kenapa papa memasak makanan yang cukup istimewa pada hari ini. Seingatnya, tidak ada yang ulang tahun pada hari ini. Hmmm...

Sekar membeli semua daftar belanjaan itu, membayarnya dan segera pulang. Sampai di rumah, papa terlihat masih sibuk dengan beberapa cetakan puding yang lucu-lucu.

"Sekar, ini nanti kamu sendokan memasukannya ke dalam cetakan ya!" perintah papa pada Sekar. Sekar sangat senang sekali menyendokan puding cokelat itu ke dalam cetakan berbentuk kura-kura. Sampai semua adonan itu habis.

"Setelah udah enggak panas lagi baru dimasukan ke kulkas ya." kata papa memperingatkan Sekar.

"Siaaap pa! Oiya pa, ini makanan buat acara apa? Bulan ini enggak ada yang ultah kita?" tanya Sekar masih penasaran.
"Sekar sayang, yang dirayakan itu kan enggak ultah doang, tapi hari-hari penting dalam hidup kita juga." jawab papa 
"Oh, tapi hari apa dong?" tanya Sekar makin penasaran.
"Entar, kamu juga bakal tahu, setelah mama pulang kantor dan semua sudah kumpul di rumah." kata papa yang sekarang mengadon bahan untuk kue bolu.

Sekar terlihat sibuk membantu papa di dapur, menyenangkan sekali karena kali ini papa membuat makanan yang paling disukai seisi rumah. Puding cokelat vla susu, kue bolu pandan dan kue lepat pisang.

Petang telah menjelang magrib. Mama sudah pulang dari kantor, kakak juga sudah pulang kuliah. Semua sudah berkumpul kembali di rumah mungil itu. Sehabis sholat magrib, papa mengeluarkan semua makanan dan menatanya di meja makan.

"Mama, ini buat mama. Khusus papa masak bersama Sekar, loh!" kata papa memberikan puding cokelat lengkap dengan vlanya ke mama.
"Waaah, makasih papa, tapi.. Ini buat perayaan apa? Kan mama enggak ulangtahun?" tanya mama dengan senang sekaligus heran.
"Mama lupa? Kalau hari ini, tepat 19 tahunnya, mama pertama kali merasakan hadirnya si kakak di dalam rahim.mama!" kata papa yang membuat semua terkagum-kagum.
"Ya ampun pa, maksud papa kalau hari ini tuh, ngerayain mama pertama kali mengandung aku?" tanya kakak dengan mata berkaca-kaca
"Papaaa, duuh, makasih banyak ya paa, mama aja enggak ingat lagi.." jawab mama sambil merangkul papa dengan sayang.
"Pa, aku juga sayang banget sama papa juga mama!" kata kakak enggak.mau kalah ikutan merangkul papa.
"Aku juga sayaaaang kaliaaan semuaaa!" kata Sekar ikutan menghambur kepelukan.papa dan mama juga kakakknya.

Penulis KKPK Menjadi Duta Film Ada Surga di Rumahmu

Dua penulis Kecil-Kecil Punya Karya (KKPK) yaitu Queen Aura dari Jakarta dan Muhammad Rafid Nadhif Rizqullah dari Bandung didapuk menjadi Duta Film Ada Surga di Rumahmu (17/03) setelah melalui proses pemilihan yang cukup alot. Keduanya merupakan penulis yang aktif dan dapat memberikan motivasi yang positif bagi rekan-rekan sebayanya.

Queen Aura, siswa SDN Jatirahayu VIII Bekasi, menulis novel Sahabat Kura-Kura setelah sebelumnya menulis bersama sembilan rekannya dalam seri Juiceme bertema Aku dan Guruku.  Anak kedua dari tiga bersaudara mengganggap penulisan cerita pendek bertema aku dan orang tuaku sangat mudah. Kisah-kisah Queen Aura dapat disimak melalui akun FB dengan nama yang sama.

Tak jauh berbeda dengan Queen, Muhammad Rafid Nadhif Rizqullah menyambut dengan riang penugasan sebagai duta Film Ada Surga di Rumahmu. Rafid, yang telah menghasilkan beberapa karya seperti KKPK Candy world, KKPK JuiceMe Tersandung Hobiku dan Kakek Misterius, KKPK Luks Sejuta Bibit Impian serta KKPK Diary untuk Dunia, sangat bersemangat saat diminta menulis cerita pendek tentang kehidupan sehari-hari bersama keluarga. Celoteh gembira siswa SDIT Fithrah Insani 1 ini dapat disimak melalui http://halamanrafidstory18.blogspot.com/

Tak hanya menulis cerita pendek, Queen dan Rafid juga akan berinteraksi dengan para pemain, kru dan produser film sehingga keduanya diharapkan dapat memberikan informasi proses di balik layar pembuatan sebuah film dan menggugah kepedulian anak-anak untuk lebih mencintai kedua orang tua mereka sebagai pemegang kunci surga di rumah masing-masing.

Sunday, March 15, 2015

[Liputan] #SurgaDirumahmu dalam Hari Bebas Kendaraan Bermotor 15 Maret 2015

Mentari baru saja muncul di ufuk timur namun kawan-kawan dari Mizan Productions dan Sanggar Ananda sudah bergegas hadir dalam rangkaian Hari Bebas Kendaraan Bermotor (15/3) yang rutin diselenggarakan oleh pemerintah DKI Jakarta setiap minggunya. Dengan membawa poster film Ada Surga di Rumahmu mereka asyik mengajak masyarakat di sela-sela keriuhan menikmati pagi untuk menyaksikan film yang akan tayang di bioskop mulai 2 April yang diproduksi oleh Mizan Productions, Nava dan Smaradana Pro.

Tak hanya berjalan di sepanjang jalan Thamrin namun mereka juga mengajak berfoto, berjoget bahkan naik ke atas pentas. Semarak kegiatan kawan-kawan bisa dilihat melalui foto-foto berikut ini:


















Wednesday, March 11, 2015

[Hikmah 10] Mata Ayah

Ini adalah kisah mencengangkan dari seorang remaja kurus kering yang sangat mencintai sepakbola dari lubuk hatinya yang paling dalam. Remaja tersebut sangat serius mengikuti latihan demi latihan. Namun karena kondisi fisiknya yang jauh lebih kecil dari anak sebayanya, maka remaja tersebut tak jua menjadi atlit. Pada setia pertandingan, remaja tersebut hanya duduk di bangku cadangan dan hampir tak pernah turun ke lapangan.

Remaja tersebut hidup hanya berdua saja dengan ayahnya. Dan kedua orang tersebut punya hubungan yang sangat istimewa. Meskipun sang anak selalu duduk di bangku cadangan, ayahnya selalu siap mengelu-elukan dirinya. Dia tak pernah ketinggalan untuk hadir dalam setiap pertandingan.

Anak muda tersebut tetaplah yag terkecil di kelasnya saat ia memasuki bangku SMA. Namun sang ayah tetap menyemangati dirinya dan menyatakan bahwa remaja tersebut tak perlu bermain sepakbola jika ia tak menginginkannya.

Tetapi anak muda tersebut sungguh menyukai sepakbola dan memutuskan untuk bertahan. Ia memutuskan untuk bekerja keras dalam setiap latihan, dan mungkin ia mendapatkan kesempatan bermain saat berada di kelas yang lebih tinggi. Sepanjang masa di SMA ia tak pernah ketinggalan waktu latihan atau pertandingan meski selalu berada di bangku cadangan selama tiga tahun.

Ayahnya yang setia selalu menenami, selalu punya kata-kata untuk menyemangatinya. Saat anak muda tersebut masuk perguruan tinggi, ia memutuskan untuk mencoba bergabung dalam klub sepakbola sebagai calon pemain. Semua orang mengira ia akan gagal namun, anak muda tersebut berhasil lolos. Pelatihnya selalu memasukkan anak muda tersebut ke dalam daftar pemain karena anak muda tersebut selalu berlatih dengan tekun dan sepenuh hati, serta pada saat yang bersamaan memberi semangat dan dukungan pada anggota tim yang memang sangatlah dibutuhkan.

Berita tersebut sangat menggembirakan dirinya sehingga pemuda tersebut segera menelpon ayahnya untuk mengabarkan berita baik tersebut. Sang ayah berbagi kebahagiaan tersebut dan menerima kiriman tiket untuk menonton pertandingan di sepanjang musim permainan di perguruan tinggi tersebut.

Pemuda yang tekun tersebut tak pernah ketinggalan jadwal latihan selama empat tahun masa perkuliahan, namun ia tak pernah mendapatkan kesempatan untuk bertanding. pertandingan semi final di tahun keempat tersebut, si pemuda itu menghampiri sang pelatih sambil menyodorkan hpnya yang berisi pesan singkat yang baru saja diterimanya.

Dengan mata berkaca-kaca, pemuda tersebut berkata lirih, "Ayahku meninggal pagi ini. Bolehkah aku izin untuk tidak mengikuti latihan hari ini?". Sang pelatih merangkul bahu pemuda tersebut dan berkata, "Kau bisa meninggalkan latihan selama seminggu, anakku. Dan tak perlu untuk merencanakan kembali mengikuti pertandingan pada hari sabtu ini."

Pada hari sabtu pertandingan berlangsung dengan buruk. Di awal pertandingan babak pkedua, pemuda tersebut dengan diam-diam masuk ke dalam ruang ganti dan mengenakan seragamnya. Saat pemuda itu duduk di bangku cadangan, pelatih dan anggota timnya terperanjat melihat kawannya sudah kembali. "Pelatih, izinkan aku bermain. Aku harus bertanding hari ini," ujar pemuda tersebut. Sang pelatih pura-pura tak mendengarnya. Tak mungkin ia memasukkan pemain terburuk dalam pertandingan semi final. Namun pemuda tersebut berkeras, dan karena merasa kasihan pada pemuda tersebut, akhirnya sang pelatih menyerah. "Baiklah," katanya. "Kau bisa masuk lapangan hijau."

Tak lama kemudian si pelatih, para pemain dan semua orang di lapangan tersebut tak mempercayai pandangan mereka. Pemuda bertubuh kecil yang tak pernah masuk lapangan hijau bermain dengan baik. Tim lawan tak dapat menghentikannya. Dia berlari, mengoper bola, menghalangi dan menendang bola layaknya seorang bintang. Anggota timnya mulai merasa bahwa mereka mungkin akan menang. Skor pertandingan menjadi berbeda tipis. Di akhir pertandingan babak kedua, pemuda tersebut menerima operan bola di dekat kotak pinalti dan mengarahkan tendangan bola ke gawang lawan. Goooollll!!!

Terdengar sorak sorai para pendukung tim tersebut. Para anggota tim mendukungnya di atas bahu mereka. Sungguh sebuah elu-elu yang tak biasanya kau dengar. Akhirnya setelah mereka kembali ke ruang ganti dan sebagian besar pergi mandi, sang pelatih melihat pemuda tersebut duduk sendiri dengan tenang di sudut ruangan. Pelatih mendatanginya dan berkata, "Nak, aku sungguh tak mempercayainya. Kamu luar biasa! Katakan padaku kau kerasukan apa? Bagaimana kau melakukannya?"

Pemuda itu menatap sang pelatih dengan mata berkaca-kaca lalu berkata, "Anda tahu bahwa ayahku telah meninggal, namun apakah kau sadari bahwa ayahku buta?". Pemuda tersebut menelan ludah dan memaksakan sebuah senyuman, "Ayahku selalu hadir dalam setiap pertandingan akan tetapi hari ini untuk pertama kalinya ia dapat melihatku bertanding dan aku ingin menunjukkan padanya bahwa aku dapat melakukannya."

Layaknya ayah si atlet tersebut, Allah selalu hadir menyemangati kita. Allah selalu mengingatkan kita untuk terus maju. Allah selalu memberikan apa yang kita butuhkan bukan apa yang kita inginkan. Allah tak pernah melewati setiap waktu dalam hidup kita. Maka berlaku dan bertindaklah selalu atas nama-Nya.

Disarikan dari berbagai sumber

Tuesday, March 10, 2015

[Hikmah 9] Piring Kayu

Seorang pria tua tinggal bersama anak lelakinya, menantu dan cucu lai-laki berusia 4 tahun. Tangan pria tua tersebut bergetar, pandangannya kabur dan langkahnya tertatih-tatih.

Keluarga tersebut makan malam bersama di meja makan. Namun tangan lelaki tua yang gemetar tersebut dan pandangan matanya yang buruk membuatnya kesulitan untuk makan. Nasi berceceran di lantai. Saat ia meraih gelas seringkali teh tumpah di atas taplak meja.

Anak lelaki dan menantunya menjadi sangat kesal karena kekacauan yang terjadi. "Kita harus melakukan sesuatu mengenai kondisi ayah," kata si anak yang merasa lelah atas konisi tersebut. Lalu pasangan suami istri tersebut menyiapkan meja kecil di pojok ruangan. Disanalah pria tua tersebut makan sendirian sementara anggota keluarga yang lain menikmati makan di meja makan. Karena pria tua itu sering memecahkan peralatan makan maka makanannya dihidangkan dengan piring kayu. Terkadang saat anggota keluarga melirik ke arah pria tua tersebut, nampak air mata meleleh saat makan dalam kesendiriannya.

Namun, kata-kata yang terucap dari pasangan tersebut hanyalah teguran keras tatkala menjatuhkan sendok atau makanannya tercecer. Anaknya yang berusia 4 tahun hanya mengamati dalam diam.

Pada suatu hari menjelang makan malam, si ayah mendapati anak lelakinya bermain dengan potongan kayu di lantai. Dia bertanya dengan lembut pada anaknya, "Apa yang sedang kamu buat?"

Dengan manis anak tersebut menjawab, "Oh, aku sedang membuat piring kayu untuk alas makan papa dan mama." Anak berusia 4 tahun tersebut tersenyum dan kembali bekerja.

Kata-kata anak tersebut menggetarkan kedua orangtuanya hingga tak bisa bicara. Kemudian air mata mereka mengalir di pipi. Meskipun tak ada kata terucapkan, keduanya tahu apa yang harus dilakukan. 

Malam itu sang suami meraih tangan lelaki tua tersebut dan mengajaknya kembali me meja makan. Sejak saat itulah ia menikmati makannya bersama seluruh anggota keluarga. Dan untuk alasan yang tak dijelaskan, pasangan suami istri tersebut nampak tak perduli lagi tatkala sendok terjatuh, teh yang tertumpah atau taplak meja yang kotor.

Disarikan dari berbagia sumber

Monday, March 9, 2015

[Hikmah 8] Mawar Untuk Ibu

Seorang pria berhenti di sebuah toko bunga untuk memesan buket bunga mawar untuk dikirimkan pada ibunya yang tinggal sejauh 100 km dari dirinya. Saat ia keluar dari mobilnya, ia melihat seorang anak perempuan duduk di tikungan dan menangis terisak-isak.

Ia menanyakan ada masalah apa dan anak perempuan tersebut menjawab, "saya ingin membeli setangkai mawar merah untuk ibuku. Namun aku hanya punya Rp 7500,- sementara setangkai mawar seharga Rp 20.000,-'

Pria tersebut kemudian tersenyum dan berkata, "Ikutlah bersama. Aku akan belikan setangkai mawar untukmu." Pria itu kemudia membelikan bunga mawar untuk anak perempuan itu dan memesan buket bunga mawar untuk ibunya.

Saat mereka meninggal toko bunga, pria tersebut menawarkan untuk mengantarkan anak tersebut pulang ke rumah. Si anak perempuan berkata, "Tentu saja. Anda bisa mengantarkanku menemui ibuku."

Anak perempuan itu mengarahkan pria tersebut ke sebuah pemakaman dimana anak tersebut meletakkan mawar di atas kuburan yang nampak masih baru. Tak lama kemudian pria tersebut kembali ke toko bunga, membatalkan pesanan pengiriman buket bunga mawar, membawanya berkendara sejauh 100 km menuju rumah ibunya.

Disarikan dari berbagai sumber

Saturday, March 7, 2015

Promosi di Cinema 21 dan partners

Tak dapat dipungkiri bahwa promosi film memegang peranan yang sangat penting untuk menggugah animo masyarakat untuk menonton film tersebut. Kehadiran kelompok-kelompok masyarakat jadi bagian penting dari kegiatan ini. Tak melulu sekedar promosi di bioskop yang memutar film Ada #SurgaDirumahmu. Berikut ini kiriman dokumentasi media promosi yang dilakukan oleh sejawat kami di berbagai wilayah di Jakarta.




















Media Promosi Tercetak Film Ada Surga di Rumahmu

Berbagai kelengkapan media promosi tercetak untuk film Ada Surga di Rumahmu telah disebarkan di berbagai wilayah. Tak hanya human banner yang hadir di tengah-tengah Hari Bebas Kendaraan Bermotor (Car Free Day) di wilayah Sudirman Thamrin setiap minggunya namun juga berbagai materi telah disebarkan untuk menjangkau khalayak lebih luas oleh kawan-kawan dan sahabat kami. Media promosi yang kami gunakan adalah: rolling banner, poster, buletin dan flyer. Adakah yang melihat atau menemukannya di sekitar anda? Silahkan muat fotonya di komen tulisan ini.













[Hikmah 7] Pengorbanan Seorang Ibu

Ibuku hanya memiliki satu mata. Aku membencinya karena ini adalah hal yang memalukan. Ibuku menjalankan sebuah toko kecil pada sebuah pasar. Dia mengumpulkan barang-barang bekas dan sejenisnya untuk dijual, apapun untuk mendapatkan uang yang kami butuhkan.

Pada suatu hari di sekolah. Aku ingat saat itu hari ketika ibuku datang. Aku sangat malu. Mengapa ia melakukan hal ini kepadaku? Aku memalingkan muka dengan rasa benci dan berlari. Keesokan harinya di sekolah. “Ibumu hanya memiliki satu mata?” dan mereka semua mengejekku.

Aku berharap ibuku menghilang dari dunia ini sehingga aku berkata kepada ibuku,”Ibu, kenapa kamu tidak memiliki mata lainnya? Ibu hanya akan menjadi bahan tertawaan. Kenapa Ibu tidak mati saja?” Namun ibu tidak menjawab. Aku merasa sedikit buruk, tetapi pada waktu yang sama, rasanya sangat baik karena aku telah mengatakan apa yang ingin aku katakan selama ini. Mungkin itu karena ibu tidak menghukumku, tetapi aku tidak berpikir bahwa aku telah sangat melukai perasaannya.

Malam itu, aku terbangun dan pergi ke dapur untuk mengambil segelas air. Ibuku menangis disana, dengan pelan, seakan ia takut bahwa ia akan membangunkanku. Aku melihatnya, dan pergi. Karena perkataanku sebelumnya kepadanya, ada sesuatu yang mencubit hati aku. Meskipun demikian, aku membenci ibuku yang menangis dari satu matanya. 

Jadi, Aku mengatakan pada diriku sendiri jika aku tumbuh dewasa nanti harus menjadi sukses, karena aku membenci ibu bermata-satu aku dan kemiskinan kami. Lalu aku belajar dengan keras. Aku pergi meninggalkan ibu dan ke Jakarta untuk belajar, serta diterima di universitas ternama dengan penuh kepercayaan diri. 

Kemudian aku menikah dan membeli rumah milikku sendiri. Lalu aku memiliki anak-anak juga. Sekarang, aku hidup bahagia sebagai seorang pria yang sukses. Aku menyukainya karena disini adalah tempat yang tidak meningatkan aku akan ibu.

Kebahagiaanku yang besar dan semakin besar berubah tatkala secara tak terduga seseorang menjumpai aku, “Apa?! Siapa ini?" Ia adalah ibuku, tetap dengan satu matanya. Rasanya seperti seluruh langit runtuh menimpaku. Anak perempuanku lari ketakutan melihat mata ibuku.

Dan aku bertanya kepadanya, “Siapa Anda? aku tidak mengenalmu!!” begitulah aku sandiwara. Aku berteriak kepadanya “Mengapa engkau berani datang ke rumah aku dan menakuti anakku! Pergi dari sini sekarang juga!”

Dan ibu dengan pelan menjawab, “Oh, maafkan aku. aku pasti salah alamat,” dan diapun berlalu. Aku mengatakan kepada diriku bahwa aku tidak akan peduli atau berpikir tentang hal ini sepanjang sisa hidupku.

Suatu hari, sebuah surat mengenai reuni sekolah datang ke rumahku. Aku berbohong kepada istri dan mengatakan bahwa aku akan pergi melakukan perjalanan bisnis. Setelah reuni ini, aku mengunjungi rumah lamaku karena rasa penasaran saja.

Di sana aku menemukan ibu aku terbaring kaku di tanah yang dingin. Tetapi aku tidak dapat mengalirkan setetes air matapun. Dalam genggaman tangan terdapat selembar kertas, surat untukku.

Inilah isi suratnya:

Anakku,
Aku pikir saat ini aku hidup sudah cukup lama. Dan aku tidak akan mengunjungi Jakarta lagi tetapi apakah permintaanku terlalubanyak jika aku ingin kamu sesekali datang mengunjungiku, nak? Aku sangat merindukanmu. Dan aku sangat lega ketika mendengar kamu akan datang dalam reuni sekolah.

Tetapi aku memutuskan untuk tidak datang ke sekolah. Kepadamu aku meminta maaf karena hanya memiliki satu mata dan mempermalukan dirimu. Tahukah kamu, saat kamu masih kecil, kamu mengalami kecelakaan, dan kehilangan satu matamu. Sebagai seorang ibu, aku tidak tahan melihatmu harus tumbuh dengan hanya satu mata. Sehingga aku memberikan sebuah mataku. Aku sangat bangga kepada anakku dapat melihat dunia yang baru untukku, menggantikan aku, dengan mata itu.

Aku tidak pernah marah kepadamu atas apapun yang kamu lakukan. Beberapa kali saatkamu marah kepadaku. aku membatin,” hal ini karena kamu mencintai aku.” Aku merindukan saat kamu masih kecil dan berada di sekitarku. Aku sangat merindukanmu. Aku mencintaimu. Kamu adalah duniaku.

Usai membaca surat tersebut, si anak tak kuasa menahan derai air matanya.Dipeluk tubuh kaku ibunya, sambil terisak ia berucap, "Maafkan aku ibu....maafkan, aku justru mengejek pengorbananmu. Bukalah matamu, bu. Pulanglah bersamaku."

Namun sayang, penyesalan selalu datang terlambat. 

Disarikan dari berbagai sumber

Friday, March 6, 2015

FILM TERBARU SUTRADARA LAHAT “ADA SURGA DI RUMAHMU”

http://lahatonline.com/14917-film-terbaru-sutradara-lahat-ada-surga-di-rumah-mu.html
4-March-2015, 09:35


Setelah beberapa Film lahir dari karya sutradara dari lahat, kini kembali Aditya Gumay berkarya dalam Film ADA SURGA DI RUMAH MU

Pada Lahat Online Rabu 4/3 Aditya mengatakan “Film ini diangkat dari novel best seller karya Ustad Ahmad Al Habsyi “Ada Surga Di Rumah Mu”, Insya Allah tayang di seluruh bioskop Indonesia pada 2 April nanti, lokasi syuting di Kota Palembang Sumatera Selatan”

“Saya bangga menjadi putra daerah Lahat yang bisa mengharumkan nama gumay lewat film bertajuk islami, jangan lupa nonton ya ajak keluarga dan orang tua kita” ujar Aditya Owner SMARADANA PRODUCTION berpromosi

untuk melihat resensi filmnya, dapat klik ini : www.youtube.com/watch?v=2El20v8Y4GU atau dapat juga lihat di link VIDEO media LAHAT ONLINE DOT COM” tambah pemilik Sanggar Ananda dan Teater Muda jakarta ini (QNANTHIE/LO/003)

[Hikmah 6] Berterima kasih pada Orangtua

Seorang anak bertengkar dengan ibunya dan pergi meninggalkan rumah. Saat berjalan ia baru menyadari bahwa ia sama sekali tidak membawa uang. Ia melewati sebuah kedai bakmi. Ia ingin sekali memesan semangkok bakmi karena lapar.

Pemilik bakmi melihat anak tersebut berdiri cukup lama di depan kedainya, lalu bertanya ”Nak, apakah engkau ingin memesan bakmi?”
“Ya, tetapi aku tidak membawa uang,” jawab anak itu dengan malu-malu.
”Tidak apa-apa, aku akan mentraktirmu,” jawab si pemilik kedai.

Anak itu segera makan. Kemudian air matanya mulai berlinang.
”Ada apa Nak?” tanya si pemilik kedai.
”Tidak apa-apa, aku hanya terharu karena seorang yang baru kukenal memberi aku semangkuk bakmi tetapi ibuku sendiri setelah bertengkar denganku, mengusirku dari rumah. Kau seorang yang baru kukenal tetapi begitu peduli padaku."

Pemilik kedai itu berkata ”Nak, mengapa kau berpikir begitu? Renungkan hal ini, aku hanya memberimu semangkuk bakmi dan kau begitu terharu. Ibumu telah memasak dan memberikan makan kamu, memelihara kamu dengan penuh kasih sayang sampai kamu dewasa, harusnya kamu lebih berterima kasih kepadanya."

Anak itu kaget mendengar hal tersebut dan merenung. Mengapa aku tidak berpikir tentang hal itu? Untuk semangkuk bakmi dari orang yang baru kukenal aku begitu berterima kasih, tetapi terhadap ibuku yang memasak untukku dan memelihara selama bertahun-tahun, aku bahkan tidak peduli.

Anak itu segera menghabiskan bakminya lalu ia menguatkan dirinya untuk segera pulang. Begitu sampai di ambang pintu rumah, ia melihat ibunya dengan wajah letih dan cemas. Ketika melihat anaknya, kalimat pertama yang keluar dari mulutnya adalah “Nak, kau sudah pulang, cepat masuk, aku telah menyiapkan makan malam.”
Mendengar hal itu, si anak tidak dapat menahan isaknya dan iapun menangis di hadapan ibunya.

Kadang kita mungkin akan sangat berterima kasih kepada orang lain untuk suatu pertolongan kecil yg diberikannya pada kita. Namun kepada orang yang sangat dekat dengan kita (keluarga) khususnya orang tua kita, kita sering melupakannya begitu saja.
Semoga bermanfaat.

Disarikan dari berbagai sumber

Thursday, March 5, 2015

Kisah Percintaan Husein Alatas Teaser “Ada Surga Dirumahmu”

http://www.kabarmaya.com/0310878-kisah-percintaan-husein-alatas-teaser-ada-surga-dirumahmu.html
Posted on Mar 3 2015 - 3:00pm by Jefrier


Kabarmaya.com – Selain mahir di bidang tarik suara, Husein Alatas ternyata juga jago dalam urusan berakting. Setelah film “7/24″, Finalis Indonesia Idol 2014 itu kembali mengembangkan sayapnya di dunia akting. Kali ini Husein Alatas akan membintangi film “Ada Surga di Rumahmu”.

Dalam film garapan Mizan Production ini, Husein berperan sebagai Ramadhan si anak pesantren. Banyak hal baru yang ditemui Husein dalam filmnya kali ini. Selama sibuk syuting, Husein harus rela meninggalkan panggung musiknya demi peran aktor yang ia jalani saat ini.

“Pengalaman yang paling berkesan banget buat aku ketika aku mendalami karakter sebagai Ramadhan, aku sampai rela nggak nerima job manggung atau nyanyi selama dua bulan penuh,” ujar Husein di kawasan Senayan, Jakarta Pusat.

Karena film ini telah selesai digarap dan tinggal menunggu editingnya saja, Teaser dari film “Ada Surga di Rumahmu” siap dirilis oleh Mizan Production. Tentu para penggemar sudah lama menunggu nunggu peran seperti apa yang akan diperankan oleh Husein Alatas. Teaser ini telah dirilis kemarin sore dan telah dapat kamu tonton di Youtube.

Dalam teaser singkat itu menceritakan tentang Ramdhan dan Nayla (Nina Septiani) yang tumbuh hingga dewasa dalam lingkungan pesantren. Suatu hari Ramadhan bertemu sosok Kirana (Zee Zee Shahab) dan mulai terjalin cinta diantara keduanya, hal itulah yang membuat Nayla cemburu karena telah lama menaruh hati pada Ramadhan.

Film ini sendiri rencananya akan mulai tayang perdana 2 April 2015 mendatang di seluruh bioskop tanah air.

Zee Zee Shahab Nostalgia Palembang

http://www.mediaindonesia.com/mipagi/read/8870/Zee-Zee-Shahab-Nostalgia-Palembang/2015/03/03
Selasa, 03 Maret 2015

SETELAH lama tidak muncul di layar lebar, Zee Zee Shahab kembali menerima tawaran syuting film drama religi berjudul Ada Surga di Rumahmu. Ia menerima tawaran itu dengan alasan nostalgia akan Kota Palembang.

"Salah satu alasan aku menerima tawaran main film ini karena lokasi syutingnya di Palembang. Kebetulan memang kampung lama aku Palembang, lebih ke nostalgia sih, lebih sering jalannya daripada syuting. Waktu pas syuting emang kangen-kangenan sama tempat di Palembang," kata dia.

Zee Zee akan memerankan Kiranalah, perempuan muslim, yang akan beradu peran dengan Husen 'Idol' yang akan berperan sebagai Ramadhan.

Meski lama vakum di dunia akting, Zee Zee mengaku tak ada kesulitan dalam memerankan tokoh Kiranalah. "Alhamdulillah tidak merasa sulit karena memang sutradara Aditya Gumay tidak banyak menuntut. Aku hanya disuruh menikmati akting di setiap adegannya," ucap Zee Zee saat ditemui di meet and greet dengan pemeran film Ada Surga di Rumahmu di Istora Senayan, Jakarta, Minggu (1/3). (H-5)

Ada Surga di Rumahmu Perkenalkan Trailer Resminya

http://www.21cineplex.com/slowmotion/ada-surga-di-rumahmu-perkenalkan-trailer-resminya,5654.htm
Posted By: Evelyn Afnilia, 04 Maret 2015

Film drama keluarga memang menjadi salah satu tontonan favorit khususnya di Tanah Air. Apalagi, jika film tersebut dibalut dengan bungkus religi yang kental seperti Ada Surga di Rumahmu. Menjelang waktu perilisannya, film dari Mizan Productions ini pun meluncurkan trailer resmi mereka pada akhir pekan kemarin.

Berdurasi 2 menit 28 detik, trailer Ada Surga di Rumahmu memaparkan sedikit dari keseluruhan ceritanya. Dan tentu saja, setelah menyaksikan trailernya, rasa penasaran pun akan muncul dan ingin mengetahui keseluruhan ceritanya di bioskop nanti.

Disutradarai oleh Aditya Gumay, Ada Surga di Rumahmu mengisahkan tentang seorang anak bernama Ramadhan, yang pada masa kecilnya selalu bandel sehingga ia harus dimasukkan ke pesantren. Dan di saat dewasa, Ramadhan mendapati kenyataan pahit tentang hidupnya dan keluarganya.

Film ini mengajak Husein Alatas sebagai pemeran utama, namun jika dilihat dari trailer, akting Husein tak kalah hebat dengan lawan main lainnya seperti Elma Theana dan Zeezee Shahab. Ada pula Nina Septiani, Raihan Khan, Budi Khairul, dan Ustad Al-Habsy.

Ada Surga di Rumahmu bakal menghiasi Cinema XXI tertanggal 2 April 2015. Namun sebelum itu, saksikan dulu trailer resminya di bawah ini.


'ADA SURGA DI RUMAHMU', Sebuah Kisah Tentang Kehidupan Keluarga

http://www.merdeka.com/artis/ada-surga-di-rumahmu-sebuah-kisah-tentang-kehidupan-keluarga.html 
http://news.babe.co.id/3167808
Rabu, 25 Februari 2015 11:58

Merdeka.com - Sebuah film drama terbaru dengan latar belakang kehidupan anak, orang tua, harapan dan tantangan akan segera dirilis untuk memanjakan para pecinta film tanah air. Film spesial berjudul ADA SURGA DI RUMAHMU ini merupakan sebuah karya terbaru dari Aditya Gumay selaku sutradara.

Film ini bercerita tentang tokoh bernama Ramadhan (Raihan Khan) . Sifat nakal dari bocah 12 tahun ini menyebabkan sang Umi (Elma Theana) dan Abuya (Budi Khairul) harus memberikan perhatian lebih terhadap tingkah dan kelakuannya.

Sejak kecil, ramadhan sudah bersahabat dengan Nayla (Nina Septiani). Dia adalah seorang gadis cantik nan sederhana. Walah sama-sama berasal dari keluarga yang sederhana, sifat kedua anak ini justru sangat bertolak belakang.

Film ADA SURGA DI RUMAHMU juga menyimpan sebuah bumbu cinta dalam jalan ceritanya. Hal itu dapat dilihat dari perasaan Nayla yang ternyata memendam perasaan suka pada Ramadhan kecil.

Di sisi lain, Abuya yang tak ingin membiarkan kelakuan nakal Ramadhan terpupuk begitu saja meminta sang anak untuk masuk pondok pesantren agar dapat dididik oleh adiknya, Ustad Athar.

Walau sempat menolak, permintaan dari sang Umi rupanya mampu meluluhkan hati Ramadhan untuk masuk pondok pesantren. Namun, Ramadhan ternyata memendam keinginan untuk dapat tampil di televisi.

Hal itulah yang ditentang oleh Umi dan Abuya. Namun, larangan tersebut tak menyurutkan niat Ramadhan untuk menjadi artis hingga sebuah kejadian tak terduga menimpa dirinya.

Hidup Ramadhan dewasa (Husein Alatas) berubah saat ustadz Athar mengabarkan bahwa selama ini biaya belajar di pesantren dibayar Abuya dengan mendonorkan ginjal. Kenyataan ini sangat memukul Ramadhan.

Ia pun bercita-cita untuk sukses sebagai ustadz. Dorongan dari Kirana (Zeezee Shahab) gadis yang dikenalnya di pesantren saat shooting film yang membuat jalan Ramadhan sebagai ustadz terbuka. Namun perkenalan dengan Kirana menyisakan rasa cemburu Nayla, teman masa kecilnya.

Umi yang sakit-sakitan terpaksa harus dilarikan ke rumah sakit saat terjatuh dan muntah di pesta orang tua Kirana. Kejadian ini membuat Ramadhan semakin keras berusaha untuk membahagiakan Abuya yang kehilangan satu ginjalnya dan Umi yang stroke. Sanggupkah Ramadhan meraih cita-citanya? Lalu siapakah gadis yang dipilih Ramadhan?

Drama penuh makna ini tentunya sangat menarik untuk ditonton. Yap, ADA SURGA DI RUMAHMU akan siap menggebrak layar bioskop mulai tanggal 2 April 2015 nanti. Beneran deh, jangan sampai melewatkan aksi para bintang top tersebut. Dijamin rugi!

(kpl/abl)

[Hikmah 5] Melamar Pekerjaan

Seorang lulusan perguruan tinggi yang masih muda dan cerdas melamar untuk posisi manajerial disebuah perusahaan besar. Dia lulus pada interview tahap pertama, dan tahap selanjutnya adalah interview dengan jajaran direksi.

Sang direktur menemukan prestasi-prestasi cemerlang anak muda tersebut pada masa sekolah hingga kuliahnya. Melihat prestasi-prestasi tersebut, sang direktur pun bertanya: “Apakah Anda menerima beasiswa untuk biaya sekolah dan kuliah?”.

Anak muda itu menjawab : “Tidak pak….!”
Direktur bertanya lagi : “Apakah ayah Anda yang membayar biaya sekolah Anda?”.
Anak muda itu menjawab : “Ayah saya telah meninggal dunia ketika saya baru berumur satu tahun. Seluruh biaya sekolah saya dibayarkan oleh Ibu saya..”

Lalu Direktur bertanya lagi : “Di mana ibumu bekerja?”
Dan anak muda itu menjawab : “Ibu saya bekerja sebagai seorang pencuci pakaian…”
Direktur itu meminta anak muda tersebut untuk menunjukkan tangannya. Dan anak muda itu memperlihatkan kedua tangannya yang sempurna dengan telapak tangan yang sangat halus.

Melihat itu Direktur bertanya lagi : “Pernahkah Anda membantu ibu Anda mencuci pakaian sebelumnya?”
Anak muda itu menjawab : “Tidak pernah pak. Ibu saya selalu menginginkan saya belajar dan membaca banyak buku. Lagi pula, Ibu mencuci baju jauh lebih cepat ketimbang saya”.
Direktur tersebut kemudian berkata : “Saya punya satu permintaan. Sekarang anda pulang dan ketika nanti anda sampai di rumah, cuci dan bersihkan tangan ibumu, kemudian temui saya besok pagi”.

Anak muda tersebut merasa kesempatannya mendapat pekerjaan tersebut sangat besar. Karena itu ketika dia sampai di rumah, dengan begitu gembira ia meminta izin kepada ibunya agar ia boleh mencuci tangan beliau.

Ibunya merasa sedikit asing, aneh, juga bahagia dan perasaan-perasaan lainnya bercampur jadi satu. Sang Ibu kemudian memberikan kedua tangannya kepada sang anak. Lalu anak muda tersebut membersihkan tangan Sang Ibu dengan perlahan.

Airmatanya mulai menetes saat itu. Ini pertama kalinya ia menyadari bahwa tangan ibunya sudah penuh dengan kerutan, dan terdapat banyak memar dan kapalan di sana sini . Beberapa memar sepertinya terasa begitu sakit, sampai-sampai Sang Ibu menggigil ketika memar tersebut dibersihkan. Ini pertama kalinya anak muda tersebut menyadari bahwa kedua tangan yang sedang dibersihkan inilah yang digunakan Sang Ibu setiap hari untuk mencuci pakaian banyak orang, sehingga Sang Ibu dapat membiayai biaya sekolah anaknya.

Memar-memar dan kapalan yang ada di tangan Sang Ibu adalah harga yang harus dibayar atas kelulusan anak tersebut, atas prestasinya yang luar biasa, dan untuk masa depannya.
Setelah selesai mencuci tangan Sang Ibu, anak muda tersebut diam-diam mencuci sisa baju yang belum sempat dicuci oleh ibunya. Dan malam itu, anak dan ibu tersebut berbincang sangat lama sekali.

Besok paginya, anak muda tersebut bergegas menemui sang direktur. Direktur tersebut menangkap airmata di wajah anak muda tersebut. Ia pun kemudian bertanya : “Bisa Anda ceritakan apa yang telah Anda lakukan kemarin dan apa pelajaran yang Anda dapat dari sana ?”
Anak muda tersebut menjawab : “Saya mencuci tangan Ibu saya, dan kemudian saya menyelesaikan sisa cucian Ibu yang belum tercuci “.

“Tolong ceritakan perasaan Anda ketika itu” ujar Direktur lagi.
Lalu anak muda itu menjawab : ” Pertama, saya sekarang tahu apa arti apresiasi. Tanpa ibu saya, tidak akan pernah ada seorang saya hari ini. Kedua, saya baru menyadari betapa sulit dan beratnya Ibu menjalani pekerjaannya. Dan dengan bekerja membantu Ibu, ternyata pekerjaan itu dapat meringankan beban Ibu. Ketiga, saya datang hari ini untuk mengapresiasi betapa penting dan bernilainya hubungan keluarga”.

Mendengar itu lalu Direktur tersebut berkata : “Inilah yang saya cari dari seorang calon pemimpin. Saya ingin merekrut seseorang yang dapat mengapresiasi dan menghargai bantuan orang lain, seseorang yang tahu persis perjuangan orang lain untuk mengerjakan sesuatu, dan seseorang yang tidak akan menempatkan uang sebagai tujuan hidup satu-satunya. Oleh karena itu mulai hari ini anda diterima bekerja disini…!”.

Disarikan dari berbagai sumber