Showing posts with label KKPK. Show all posts
Showing posts with label KKPK. Show all posts

Wednesday, April 15, 2015

Jelmaan Air Mata


             “Buang saja mimpimu jauh-jauh. Anggap sajamimpi itu telah sirna bersama dengan sirnanya senja kali ini, Runi.”

Semburat jingga yang terlukis sempurna terlihat begitu menawan. Jarum jam terlihat sangat lincah berputar, tak seperti biasanya. Angin bertiup lembut, seakan membelai setiap orang dengan cinta. Sekawanan burung berkelana,  menghiasi indahnya senja.

  Clak..! Clak .. ! Air mata keluar dari mata Runi. Di antara tangisnya, ia mencoba untuk terbangun. Ingin rasanya aku membantunya. Tersirat      dari wajahnya, ia berteriak mengekspresikan perasaannya kali ini. Namun sayang. Aku hanyalah Nadia,siswi kelas 6 yang tidak mungkin bisa mengalahkan Kamelia. Maafkan aku, Runi, batinku. Lagipula, aku tidak selevel dengan Runi. Seperti bumi danlangit. Aku anak orang kaya sedangkan Runi? Eh, tapi tunggu. Bukankah akusetiap hari memerhatikan dia walaupun tidak sekelas?
   Ya, seperti biasa Kamelia dan kawan-kawan membully Runi. Bahkan, uang jajan Runidiambil oleh Kamelia. Padahal, Runi hanya membawa uang jajan seribu rupiahsetiap harinya. Dan kali ini, Kamelia membakar kertas bertuliskan cerita pendek karya Runi. Runi akhirnya bisa terbangun. Ada luka kecil di kakinya. Ketika ia berdiri, Kamelia mendorongnyahingga terjatuh kembali.

     “Sudah kubilang, kau menyerah saja. Dasar payah! Oh ya, buang mimpimu jauh-jauh ya!” seru Kamelia.
***
  Bel istirahat berbunyi nyaring. Seperti biasa, semua berhamburan untuk pergi keluar kelas. Aku berjalan bersama Shara,   namun berpisah ketika sampai di depan perpustakaan. Kini aku hanya sendiri. Kulihat, Runi sedang mengajarkan materi-materi matematika kepada Kamelia. Dia juga berbicara, menawarkan barang dagangannya ketika Kamelia sedang mengerjakan soal yang diajari Runi.
  Itulah Runi. Siswi yang hanya memiliki delapan jari. Ia selalu ceria, walau ia dibully.  Mungkin bisa dibilang kemarin sore saja ia menangis. Sebelum dan setelahnya, Runi selalu tersenyum. Yups, Runi sukses membuat tanda tanya di pikiranku.
***
   Pemandangan kota yang penuh polusi kini sudah bermetamorfosis menjadi kota canggih namun bebas polusi. Kau pasti heran, mengapa ada kota canggih namun bebas polusi? Memangnya ada, kota canggih tanpa polusi?
  Inilah Indonesia. Telah berubah mengikuti arus globalisasi. Kau jangan lupa denganku , ya! Aku Nadia. Sekarang aku bekerja sebagai pembawa acaratalkshow di salah satu televisi swasta ternama. Sebelum acara talkshowdimulai, seperti biasa aku akan berbincang-bincang dengan bintang tamunya.
   Di hadapanku ada seorang wanita sukses. Parasnyacantik bukan main.
“Khairunnisa Azzahra?” pekikku kaget ketika aku tahu bintang tamu kali ini. Dia berjalan dan duduk di dekatku. Spontan, aku dan dirinya berpelukan. Ya, kini aku berhadapan dengan Runi, penulis sukses. Buku-bukunya best seller, terkenal hampir di seluruh dunia karena bukunya dicetak di berbagai Negara, dan buku-bukunya juga banyak yang diangkat menjadi film layar lebar.

    “Hai Runi, apa kabar? Oh ya, ada satu pertanyaan besar yang masih belum terjawab sejak dulu dari zaman kita SD. Kamu sering dibully oleh Kamelia dan kawan-kawan, namun kamu tetap ceria, tersenyum. Bahkan kamu masih mau mengajari Kamelia tentang pelajaran yang tidak ia mengerti. Mengapa, Runi?” tanyaku. Runi tersenyum, lalu memutarkan bola matanya. Sepertinya ia sedang menerawang ke masa lalu, mengingat kembali memori-memori kenangan dulu.
  “Alhamdulillah, Nad. Aku baik. Nah lho,pertanyaan itu ya? Sebenarnya, aku bisa jadi sukses seperti ini dan bisa selalu ceria walau dibully karena satu. Orang tua. Kamu tahu, Nad? Orang tua adalah segalanya. Manusia yang bisa apa saja. Abi seorang pahlawan yang bekerja banting tulang dan Ummi adalah malaikat yang rela apapun. Dan orang tualah yang membuat hari-hari berwarna, membuat dunia menjadi bermakna. Jasanya sungguh berharga,” Runi menarik nafasnya. “Jadi, kesuksesan ini adalah jelmaan dari airmata. Air mata kesedihanku dulu. Tapi, karena Ummi dan Abi, air mata itu menjadi tawa. Hingga menjelma menjadi kesuksesan,”  
  Aku mengangguk, berusaha mencernakata-kata Runi tadi. Ya, orang tua adalah segalanya. Kini aku tahu, mengapa Runi selalu ceria. Karena Runi bahagia dan sangat bersyukur ada surga di rumahnya. Langsung saja aku teringat pada Ayah dan Bunda. Saat ini Ayah dan  Bunda pasti memikirkanku walau sedang sakit, sedangkan aku yang masih sehat tidak memikirkan mereka. Ayah, Bunda….,aku membatin. Tanpa terasa, setetes air mata jatuh dari mataku.      

Rahasia Baila


Rahasia Baila
Entah kenapa, sejak dari pertama kenal Baila, aku tidak pernah menyukainya. Bukan karena dia lebih jago matematika dariku, atau karena dia juara kelas. Bukan, bukan itu! Di kelas ini, tidak ada seorangpun yang bisa mengalahkanku dalam olimpiade matematika apalagi juara umum!
Pasti kalian pikir, aku tidak menyukai Baila karena dia cantik? Karena dia punya barang-barang yang bagus? Atau karena dia punya uang jajan yang banyak? Duuh, bukan karena itu semua teman! Baila bahkan tidak miliki semua itu, dia hanya anak perempuan biasa saja, tidak bule indo seperti aku. Apalagi soal barang yang dipakainya, semua biasa saja, seperti kebanyakan orang. Dan, tentu saja juga Baila tidak punya uang jajan yang banyak, seperti yang ada di dalam dompet biru Fozenku. Dia malah selalu bawa bekal ke sekolah.
Terus kenapa, aku tidak menyukainya? Bahkan tidak ada satu halpun pada Baila yang mampu menyaingiku? Ya, itu dia! Justru aku tidak menyukai Baila karena kebersahajaannya. Aku aneh? Mungkin sekarang kalian bilang begitu tapi baiklah aku akan ceritakan kelanjutannya..
smile emoticon
Setiap pagi, Baila yang berkulit sedikit gelap itu pasti datang lebih awal dari teman yang lainnya. Dia membawa banyak termos-termos kecil di atas keranjang sepedanya. Keranjang yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa agar bisa membawa enam termos dengan baik. Termos itu dititipkan di warung-warung langganan juga di kantin sekolah. Baila menitipkan termos kecil berisi es buatan ibunya di warung-warung dan diambil kembali saat pulang sekolah. Es yang enak, meski aku membelinya tanpa sepengetahuan Baila dong!
Kalau hari panas, es Baila pasti laku keras dan dia akan tertawa senang. Tapi kalau mendung dan musim hujan, sudah dipastikan pula es Baila tidak akan habis, dan dia (tetap) akan tertawa senang. Itu hal yang aku tidak suka pada Baila!
Baila itu tidak jago dalam semua mata pelajaran, standar dan biasa saja, paling hanya tuntas KKM saja, tapi semua guru menyukainya. Dan lagi-lagi dia akan tersenyum, hal yang aku tidak suka. Begitu pula teman-teman, apa serunya coba main sama Baila? Tapi hampir seisi sekolahan senang padanya. Dan dia tersenyum lagi.
smile emoticon
Hari Senin, itu adalah hari yang sangat bersejarah buatku. Bel pulang sekolah telah berbunyi, semua bergegas pulang ke rumah. Tapi sampai angka 2 di jam tanganku, Pak Rudi sopirku belum juga datang menjemput. Aku berkali-kali mengecek hapeku, tidak ada balasan sms dan bbm dari Pak Rudi.
"Huh! Kemana dulu sih sopir pemalas itu?" dengusku dengan kesal
"Heeei, Freya? Kok, kamu masih di sekolah?" sebuah suara terdengar dari arah belakangku. Mmm, apa pedulinya sih anak itu? Dia si Baila!
"Jangan sok perhatian! Kepo!" sahutku makin kesal
"Nih! Buat ngilangin haus." Baila memberikan dua es kepadaku. Sebenarnya aku mau banget, apalagi udah siang banget seperti ini, haus dan lapar sekali. Tapi tidak, aku kan enggak suka liat Baila!
"Huh!" kataku melengos
"Freya, rumah kamu jauh ya?" Baila masih saja mengajakku ngobrol.
Duh, kenapa sih anak ini kepo banget jadi orang! Ngeselin banget deh. Tapi, dia ngapain juga masih di sekolahan ya?
"Eh Baila, kok masih di sini?" tanyaku
"Nemenin kamu!" jawab Baila tersenyum
"Haaa? Nemenin aku?"
"Aku liat kamu masih ada dan sendirian, jadi temenin aja sampai sopir kamu datang, hehhehe.." jawab Baila dengan senyum (yang baru aku sadari, itu manis sekali)
Aku tertegun mendengar jawaban Baila. Bukannya aku dan dia selama ini enggak akrab? Bahkan kadang aku terang-terangan memperlihatkan tidak sukaku pada dia. Tapi...
"Freya, kamu nunggu sopirnya di rumahku aja yuk! Pasti sekarang kamu udah lapar banget." ajak Baila padaku.
"Mmm, emang rumah kamu di mana?" tanyaku pada Baila
"Itu, dekat kok dari sini, yuuk!" Baila menarik tanganku.
smile emoticon
Aku tidak tahu, apakah kejadian hari Senin ini adalah cara Tuhan untuk membukakan mata hatiku, agar dapat melihat sesuatu dengan cara yang berbeda.
Rumah Baila sangat sederhana, dia punya tiga adik yang masih kecil. Ayah yang lumpuh akibat kecelakaan setahun yang lalu dan seorang ibu yang selalu tersenyum dengan tulus.
Berada sesaat saja di rumah Baila, membuat aku yang masuk kategori anak jenius ini, merasa seperti butiran debu.
Bagaimana tidak? Aku miliki segalanya bahkan berlimpah. Aku punya Mom and Dad yang hebat, yang bekerja siang malam untukku, bahkan saking sibuknya jarang aku bertemu dengan mereka. Aku juga tidak perlu berbagi apapun dengan saudaraku, karena aku anak tunggal.
Pantas saja, Baila selalu tersenyum dengan semua harinya, dengan semua apa adanya dia, karena dia.. Dia, Baila miliki surga di rumahnya.
‪#‎Tag‬ Kak Sekar ChamdiSurga Dirumahmu, finally the last duty as Duta Film Ada Surga Di Rumahmu smile emoticon

Wednesday, April 8, 2015

Jeritan Penuh Dosa



   Arak-arakan langit senja terlihat begitu indah. Pepohonan seakan menari, menikmati belaian lembut angin yang berembus.Hujan rintik-rintik turun, menyongsong senja yang telah tiba.  Di balik keramaian kota, seorang Ibu paruhbaya menjinjing barang jualannya. Tersirat wajah bahagianya, walaupun kue-kue jualannya masih sedikit terjual.

                                                                                                                                             ***
   Ckiiit! Rem mendadak yang dilakukan oleh supir pribadiSyalia membuat badanku ke depan. Rupanya ada seorang ibu yang sedangmenyebrang. Pelan sekali.
  “Siapa sih, Ibu itu? Sudah hampir tua, lelet lagi jalannya,” gerutu Syalia seraya membuka kaca jendela mobil. “Oh,ternyata penjual kue. Ih, enggak level binggow,”lanjutnya.
Aku dan Syalia memutuskan untuk turun, lantas berjalan menuju ibu penjual kue itu.
  Syalia mengentakkan kaki.
“Ibu, kalau jalan bisa enggak sih, lihat-lihat?”
Spontan, Ibu penjual kue itu melihat wajah kami berdua, aku dan Syalia. Begitukagetnya aku. Ibu penjual itu adalah ….. Ibu!
 Hah? Ngapain Ibu jualan kue? Malu tahu. Apalagi dilihat sama Syalia.Huh, batinku kesal.

  “Layla, bukannya itu ibu kamu?” tanya Syalia.Aku diam seribu bahasa. Begini-begini juga, aku bukan malin kundang yang tidakmengakui ibunya. Ugh, harus gimana ini?
 Dengan sangat amat terpaksa, aku mengangguk.“Maafiin ibu aku ya. Ya udah deh, pesta tehnya diundur aja. Kamu pulang. Biar aku yang beresin semuanya,”
  Syalia mengangguk mengerti, lalu menujuke mobilnya.Brmm…. Mobil melaju, hingga hilang dari pandanganku. Kini, tinggalah aku dan Ibu. Aku dan Ibu berjalan ke pinggir.
   “Bu, ngapain sih Ibu jualan kue segala? Katanya ibu sakit. Sampai enggak mau beliin Layla baju lagi. Layla sebenernya udah sabar waktu Ibu enggak beliin baju. Tapi sekarang, ternyata Ibu bohong. Berarti ibu enggak sakit kan? Hujan-hujan gini relain jualan kue,”ucapku kesal. Aku membuka tutup keranjang kue yang dijinjing Ibu. Segera saja kuambil kue-kue itu dan membuangnya ke tanah. Ketika semua kue sudah berada ditanah, aku injak semua kue itu.

    Aku berlari meninggalkan Ibu. Untung saja,rumahku tak jauh dari sini.
***
  Sudah tiga hari lamanya Ibu tidak datang ke rumah.  Oups, rumah?  Mungkin. Tapi lebih tepatnya tempat berlindung dari bambu dan anyaman. Well,aku enggak tahu apa namanya rumah jelek itu. Jadi, selama ini aku berpuasa. Kalau di sekolah, aku selalu diberi chiki serta snack lainnya oleh teman-teman.
    “Assalamu’alaikum,” salamku ketika kakikusudah berpijak di rumah. Tak ada siapa-siapa. Huh, Ibu macam apa sih yang tega ninggalin anaknya. Udah tahu Bapaknya udah meninggal. Sekolahku juga dari beasiswa prestasi, karena menang lomba olimpiade. Awalnya sih beasiswa kurangmampu di sekolah dasar negeri, tapi karena mewakili sekolah hingga tingkatnasional dan juara, aku jadi mendapat beasiswa di sekolah eliteBack to the story.

 Bruuk!
 Aku menyimpan tas di dekat meja belajar yang telah rapuh. Eh,apa itu? Sebuah kotak besar. Dibungkus dengan kertas bermotif yang menawan. Sungguh indah. Tanpa ba-bi-bu lagi, aku segera membukanya. Terdapat   lima potong baju yang aku idam-idamkanselama ini.
  Ngiung..ngiung.. ngiung..! Terdengar suaraambulns. Semakin lama, suaranya semakin mengeras.
  “Layla…! Layla …!” seru Bu Ida,tetanggaku. Beliau orang kaya. Rumahnya megah, antonim dari rumahku.
  ”Ada apa, Bu?”
“Ibumu, Lay. Ibumu….,”  Bu Ida langsung menjelaskan semuanya. Semua berawal dari tiga hari yang lalu. Ketika senja telah berakhir, Ibu tertabrak oleh mobil. Dan rupanya, Ibu tertabrak mobil karena dia pusing. Penyakitnya belum sembuh tapi sudah  jualan kue sambil hujan-hujanan. Itu karena aku, hiks…. Ibu. Jangan pergi! Aku membatin penuh penyesalan.
  Kau tahu, apa yang terjadi selanjutnya? Akumenangis dan menjerit sekeras-kerasnya. Jeritan penuh dosa, yang tak bisa didengar oleh Ibu. Bu, kalau Ibu bisa hidup lagi, aku ingin memeluk  Ibu dan meminta maaf, Bu …

Friday, April 3, 2015

Aku Adalah Akar

Ditulis oleh: Queen Aura (Penulis KKPK)
27 March 2015 at 09:53


"Alhamdulillah.." bunda berucap syukur.
Semua yang ada di ruangan itu bertepuk tangan dengan gempita. Aku, adikku dan Ayah tersenyum bangga menyaksikan kakak yang berdiri dengan anggun saat menerima piala kemenangannya.

Ya, kakak kembali menjadi sang juara untuk yang kesekian kalinya. Buat kakak menjadi pemenang itu sudah suatu hal yang mudah. Lemari di rumah pun penuh sesak oleh piala dari berbagai macam jenis perlombaan. 

Di balik perasaan bangga memiliki kakak yang hebat terselip juga sedikit perasaan iri. Bagaimana tidak iri, kalau hal yang sangat sukar bagiku begitu mudah buat dia? Apalagi kalau di mata pelajaran matematika, guruku yang dulunya juga menjadi guru kakak dengan senang hati membandingkan aku dan kakak di hadapan teman sekelasku. Atau pada acara keluarga besar kami ngumpul, semua pasti memuji kakak dan ujungnya lagi-lagi tertuju padaku..

"Wah, Rin begitu hebat! Kamu gimana Ra, belum pernah nih denger si Aira juara apapun heheheheee..." itu hanya satu contoh kalimat yang menusuk-nusuk ulu hatiku.

Tapi, sepertinya pujian itu akan terus mengalir kepada kakak dan juga adik. Sejak adik telah pandai membaca di usia tiga tajun, perkembangannya begitu luar biasa. Barangkali adikku memang termotivasi dari kakak. Dan, lagi-lagi aku akan jadi Aira yang hanya penonton di pinggir panggung. Menyaksikan kakak dan adik yang bersinar dengan prestasinya.

Aku kembali meletakan piala itu ke tempatnya. Hari ini adalah jadwalku membersihkan rumah kami yang mungil. Aku termangu memandang deretan piala itu yang tiga diantaranya punya adik.

"Aira, kok malah melamun?" tiba-tiba bunda sudah asa dekatku.
"Eh, mmm... Bunda, maafin Aira ya belum bisa mwmbanggakan bunda dan ayah seperti kakak dan adik.." kataku dengan lirih
"Siapa bilang, Aira enggak buat bunda dan ayah bangga?" kata bunda penuh senyum
"Tapi kan di lemari ini belum ada piala atas namaku, bunda."
"Hmmm, sayang, piala itu memang buat bangga, tapi bukan satu-satunya kebahagiaan buat bunda dan ayah. Tapi ada yang lebih berarti dari itu semua!" kata bunda mengelus rambutku yang panjang.
"Tapi kan Aira belum bisa membanggakan.."
"Justru bunda sangat bangga pada Aira!"
"Ahh bunda hanya menghibur Aira, kan?"
"Sayang, buat bunda dan ayah memiliki kalian bertiga itu seperti punya sebatang pohon yang kuat!" kata bunda dengan mata bersinar bahagia.
"Maksud bunda?"
"Iya, sebatang pohon yang kuat dan kokoh itu butuh akar yang kuat dan tidak perlu terlihat! Kalau kakak dan adik adalah bunga dan buah yang tampak bagus dan memikat, maka Aira adalah akarnya! Tanpa akar, sebatang pohon jangankan berbunga dan berbuah, tumbuh aja enggak bisa." bunda berkata panjang lebar sambil memelukku erat.

Aku tetap saja butuh waktu yang lama untuk mengerti apa yang dikatakan oleh bunda. Tapi yang jelas sekarang aku senang dan mengerti, kalau aku ternyata juga membanggakan bunda dan ayah meski tanpa piala.

Pedang Penusuk Jiwa

Ditulis oleh: Muhammad Rafid Nadhif Rizqullah (Penulis KKPK)
27 March at 11:17 


Ckiiit! Bruk.
 Tatapan mataku seketika menjadi buram. Ingin rasanya berteriak, memberitahu kepada seluruh dunia, bahwa aku sakit luar biasa. Lama-lama, dunia menjadi gelap. Suara indah seketika sirna. Dan kini, tak ada lagi yang bisa kuceritakan padamu tentang sekelilingku. Karena semuanya, seakan lenyap.
***
     Kecelakaan kala itu membuat hidupku berubah. Mataku menjadi buta karenanya. Tak hanya fisikku yang berubah, tapi rasa sayangku pada Mama berubah. Dulu yang kuanggap sebagai malaikat hidupku, kini tak lagi berarti apa-apa. Aku sangat benci pada Mama. 
  “Huh, Mama nyetir mobilnya enggak bener. Gara-gara Mama, aku jadi buta gini. Atau, Mama malah sengaja maungebunuh aku,” gumamku. Teringat kembali detik-detik peristiwa buruk dalam hidupku. Ya, detik-detik kecelakaan yang menimpaku. Bersamaan dengan itu, suara langkah kaki terdengar. Semakin lama, suara itu semakin terdengar. Siapa ya,itu?
   “Nayla, sayang… sekarang makan yuk,” ucap seseorang. Bertepatan dengan itu, suara langkah tak terdengar lagi. Itu tandanya, suara langkah kaki itu adalah suara langkah orang yang sekarang berada di dekatku! Ah, itu Mama! Aku menggeleng kuat.
   “Ayolah, Nay. Makan ya?”
“Kenapa sih, Mama maksa gitu? Apa jangan-jangan Mama mau ngeracunin aku ya? Memanfaatkan keadaan. Sekarang kan aku buta, jadi Mama bisa ngeracunin atau ngerjain aku sesuka hati,” balasku ketus. Mau bagaimana lagi? Aku sudah terlanjur kesal sama Mama.
   “Enggak kok sayang,” terdengar suara lembut yang menggetarkan jiwaku. Mama…., batinku. Kasihan juga ya, Mama. Kan Mama yang udahmengandungku dengan rasa sakit yang luar biasa, melahirkanku, dan merawatku.Apalagi sekarang Papa udah enggak ada, jadi Mama yang mencari nafkah, lanjutku membatin. Eh, tapi… apa suara lembut itu hanya rekayasa agar aku bisa makan itu? Keterlaluan. Aku meraba-raba. Segera saja aku pecahkan mangkuk yang dibawa Mama. Pyaaaar! 
  Sepertinya mangkuk itu pecah. Biarlah.Biar Mama yang membereskannya. Beberapa detik kemudian, terdengar suarateriakan dan tangisan. Aku mengabaikannya dan bergegas tidur.
***
      Pagi ini, aku ditugaskan oleh Tante Nisa untuk membereskan gudang. Mungkin kamu heran, mengapa aku bisa disuruh membereskan gudang. Karena, dua minggu yang lalu, aku sudah dioperasi. Ada seseorang yang mendonorkan matanya untukku. Jadi, sekarang aku bisa melihat semuanya. Sambil beres-beres, aku bersenandung ceria.
  “Mungkin Mama benar-benar tidak sayang padaku. Masa, oranglain rela mendonorkan matanya untukku, tapi Mama malahenak-enakan ke Singapura? Pake menitipkan aku kepada Tante Nisa lagi,” ucapku. Eh, buku diary siapa itu? Apa itu diaryku dulu? Karena penasaran, aku segera membukanya. Di halaman terakhir….
  
  Hari ini aku benar-benar sedih. Anakku yang dulu adalah penyejuk jiwa, sekarang seakan menjadi pedang penusuk jiwa. Kemarin, ia berkata padaku dengan ketus danmemecahkan mangkuk yang kubawa. Ketika aku hendak mengambil kain pel, telapak kakiku terkena pecahan mangkuk itu. Darah mengalir dengan banyaknya, hingga akuberada di sini, rumah sakit. 
  Sebenarnya aku tidak ingin di siniterus, karena aku kangen anakku. Meskipun anakku telah membuat jiwaku terluka,tapi aku sangat sayang. Bahkan aku semakin sayang. Hmm, besok, aku ingin mendonorkan mataku untuk Nayla. Agar bidadari kecilku bisa melihat dunia dengan senyuman indahnya.
     --Syfa---
  
“Jadi…?” aku tak percaya. “Iya, benar. Pendonoran mata itu membuat Mamamu meninggal. Kak Syfa alias almarhumah Mamamu berpesan sebelum mendonorkan matanya pada Tante, agar Tante menghibur kamu. Begitu. Dankamu tahu, Mamamu sebenarnya menangis tiada henti memikirkanmu,” cerita TanteNisa. Mulai dari situ, tangisanku meledak. “Ma, aku cinta Mama,” bisikku pelan di antara tangisku.

Monday, March 23, 2015

Ibu Telah Berbohong

Ditulis oleh Queen Aura (Penulis KKPK)
23 March 2015 at 10:19


Alia terkejut melihat apa yang ditemukannya di dalam lemari Ibu. Sebuah dompet lusuh dan berisi uang yang juga lusuh! Alia terhenyak..

"Jadii.. Ibu udah bohong, sama aku?"

Alia tidak dapat menahan perasaan yang berkecamuk dalam hatinya. Bercampur aduk antara bingung, heran, kecewa dan juga tidak percaya. Ternyataa! Ibu punya kok uang bahkan jumlahnya cukup banyak dari yang diminta Alia kemaren. Alia masih termangu dan mengingat kejadian beberapa hari yang lalu.

"Bu, abis Try Out, kita sekelas mau jalan-jalan ke mall juga sekalian nonton." kata Alia pada Ibu saat pulang sekolah.
"Kan, baru selesai TO, masih ada UN dan UAS. Jangan berleha dulu." jawab Ibu dengan tersenyum.
"Gak apa-apa kali bu! Orang aku udah janjian ama Lisa, Maura dan Cika."
"Nanti ya, Alia. Sekarang habiskan dulu makannya nanti kita bicarakan lagi!" kata Ibu sambil menambahkan sayur ke piring Alia.

Di sekolah, kemaren teman-teman Alia juga sudah menanyakan kepastian Alia buat ikut nonton dan main ke mall. Tapi Alia belum bisa memberikan jawaban karena pembicaraan dengan Ibu belum tuntas. Pulang sekolah, Alia kembali berkata pada Ibu.

"Bu, kasih Alia uang ya, buat nonton dan main ke mall ama teman-teman."
"Alia, itu kan, enggak harus. Lagipula kamu masih harus banyak belajar buat UN dan UAS." jawab Ibu
"Huh! Ibu mah begituu!" jawab Alia cemberut
"Alia, Ibu enggak punya uang buat keperluan kamu yang enggak penting seperti itu!" jawab Ibu sambil beranjak dari duduknya.

Dan, sekarang? Buktinya Ibu punya uang kok! Tapi kenapa harus bohong sama Alia? Alia rasanya pengen marah karena ternyata Ibu punya uang. Lalu kemudian dia keluar mencari Ibu yang sedang menyetrika baju. Alia menghampiri Ibu.

"Ibu bohong sama Alia!" kata Alia dengan wajah cemberut
"Eh, kok Alia ngomong gitu sama ibu?" tanya Ibu dengan heran.
"Nih, buktinya Ibu punya uang, kata ibu enggak ada!" nada suara Alia makin tinggi.

Ibu melihat dompet yang ada di tangan Alia. Mematikan setrikanya dan mengambil dompet itu dari Alia lalu berkata
"Alia, kamu kok bongkar lemari ibu sih?"
"Ibu bohong!" kata Alia tanpa mengindahkan tanya ibu padanya.
"Alia, denger ya, nak! Ibu memang enggak punya uang kalau untuk keperluan yang tidak penting."
"Tapi itu ada uang dalam dompet itu!" kata Alia
"Alia, ini uang yang ibu kumpulkan sedikit demi sedikit buat keperluan kamu nanti masuk SMP. Nih, lihat baru terkumpul sekitar 625.000 ribu. Sementara kebutuhan kamu nanti, masih banyak lagi." kata Ibu sambil menghitung uang itu.
"Jadi, maksud ibu uang itu buat Alia masuk SMP?" tanya Alia lagi.
"Alia sayang, sebenarnya kamu enggak perlu tahu bagaimana ibu mengumpulkan uang ini tapi kamu sudah keduluan mengetahuinya."

Alia tidak dapat berkata apa-apa lagi, matanya telah kabur oleh genangan air mata yang siap tumpah. Alia merasa telah sangat bersalah menuduh ibu berbohong. Padahal selama ini ibu telah berusaha mencari uang sendiri sejak ayah meninggal dua tahun yang lalu. Ibu menerima laundry dari tetangga sekitar.

"Bu, maafin Alia.. Hiks.." kata Alia memeluk Ibu dengan erat.