Showing posts with label Renungan. Show all posts
Showing posts with label Renungan. Show all posts

Wednesday, April 8, 2015

Sebuah pesan menyentuh dari Ustad Ahmad Alhabsyi

Assalamualaikum wr.wb.
Subhanallah, maha indah al-Qur'an tegaskan untuk kita, bahwa kita adalah umat terbaik selama kita mau berdiri, saling mendukung untuk menebar kebaikan (Ali Imran 110).
Maha Rahman Allah, saat ada kabar, berita, info harus selalu check n recheck, tabayun hingga tdk menjadi fitnah yang kurangi nikmat ukhuwah (al-Hujurat 6)
Betapa menderita bila kita termasuk pelaku fitnah, atau penyambung fitnah (dg menyebarkan atau BC), bayangkan Allah tegaskan fitnah lebih kejam dari pembunuhan.
Mulia jd orang yg cerdas, jadi muslim yg pinter; orang yg setiap ada informasi masuk, tak hanya mendengar dan membaca, tapi ia mau melihat, berpikir, bertanya dan baru menyimpulkan.
Kita berpahala jika trs terobsesi n semangat dlm tolong menolong dlm kebaikan, krn pahala pelakunya kita raih juga. Sebaliknya, rendahlah kita bila sibuk menyebarkan yang tak benar dann tak baik, karena kita pun bisa terkena dosanya (al-Maidah:2).
Haqul yakin tak bijak, jika masalahkan media. Iya media-media Nasional, jg tvtv sebagian besar bukan milik Muslim, handphone, mobil, pesawat, dan lain-lain yang nyata bukan punya umat, milik org lain, siapkah kita dikatakan kita berdosa karena menggunakannya.
"Ada Surga di Rumahmu" merupakan film perjuangan dakwah menebar kebaikan. Diangkat dr buku National Best Seller karya saya, al-Faqir Ahmad Al Habsyi. Nilai sentral luhur yg dikedepankan buku dan film adalah pentingnya berbakti kepada orang tua. Garansi bebas dari nilai atau ajaran yg tak sejukkan pandangan ukhuwah islamiyah.
Persembahan cinta untuk orang tua yg terlegitimasi agung dalam ayat-ayat al-Qur'an dan as-Sunnah.Inilah nilai fitrah manusia agar segera mengejar surga di rumah, orang tua.
Semua sepakat; atas nama perintah Allah dan Rasul-Nya, atas nama fitrah suci kita, atas nama cinta orang tua, atas nama usaha menjadi umat terbaik, atas cita agar anak-anak kita berbakti kepada orang tua, hingga lahirkan ridha Allah pada semesta, saya mengajak mari kita berkontribusi dengan kebaikan, mari saatnya kita ajak anak-anak kita, keluarga, teman, saudara, nonton film dakwah "Ada Surga di Rumahmu". Terima kasih. Salam ukhuwah.

Friday, April 3, 2015

Aku Adalah Akar

Ditulis oleh: Queen Aura (Penulis KKPK)
27 March 2015 at 09:53


"Alhamdulillah.." bunda berucap syukur.
Semua yang ada di ruangan itu bertepuk tangan dengan gempita. Aku, adikku dan Ayah tersenyum bangga menyaksikan kakak yang berdiri dengan anggun saat menerima piala kemenangannya.

Ya, kakak kembali menjadi sang juara untuk yang kesekian kalinya. Buat kakak menjadi pemenang itu sudah suatu hal yang mudah. Lemari di rumah pun penuh sesak oleh piala dari berbagai macam jenis perlombaan. 

Di balik perasaan bangga memiliki kakak yang hebat terselip juga sedikit perasaan iri. Bagaimana tidak iri, kalau hal yang sangat sukar bagiku begitu mudah buat dia? Apalagi kalau di mata pelajaran matematika, guruku yang dulunya juga menjadi guru kakak dengan senang hati membandingkan aku dan kakak di hadapan teman sekelasku. Atau pada acara keluarga besar kami ngumpul, semua pasti memuji kakak dan ujungnya lagi-lagi tertuju padaku..

"Wah, Rin begitu hebat! Kamu gimana Ra, belum pernah nih denger si Aira juara apapun heheheheee..." itu hanya satu contoh kalimat yang menusuk-nusuk ulu hatiku.

Tapi, sepertinya pujian itu akan terus mengalir kepada kakak dan juga adik. Sejak adik telah pandai membaca di usia tiga tajun, perkembangannya begitu luar biasa. Barangkali adikku memang termotivasi dari kakak. Dan, lagi-lagi aku akan jadi Aira yang hanya penonton di pinggir panggung. Menyaksikan kakak dan adik yang bersinar dengan prestasinya.

Aku kembali meletakan piala itu ke tempatnya. Hari ini adalah jadwalku membersihkan rumah kami yang mungil. Aku termangu memandang deretan piala itu yang tiga diantaranya punya adik.

"Aira, kok malah melamun?" tiba-tiba bunda sudah asa dekatku.
"Eh, mmm... Bunda, maafin Aira ya belum bisa mwmbanggakan bunda dan ayah seperti kakak dan adik.." kataku dengan lirih
"Siapa bilang, Aira enggak buat bunda dan ayah bangga?" kata bunda penuh senyum
"Tapi kan di lemari ini belum ada piala atas namaku, bunda."
"Hmmm, sayang, piala itu memang buat bangga, tapi bukan satu-satunya kebahagiaan buat bunda dan ayah. Tapi ada yang lebih berarti dari itu semua!" kata bunda mengelus rambutku yang panjang.
"Tapi kan Aira belum bisa membanggakan.."
"Justru bunda sangat bangga pada Aira!"
"Ahh bunda hanya menghibur Aira, kan?"
"Sayang, buat bunda dan ayah memiliki kalian bertiga itu seperti punya sebatang pohon yang kuat!" kata bunda dengan mata bersinar bahagia.
"Maksud bunda?"
"Iya, sebatang pohon yang kuat dan kokoh itu butuh akar yang kuat dan tidak perlu terlihat! Kalau kakak dan adik adalah bunga dan buah yang tampak bagus dan memikat, maka Aira adalah akarnya! Tanpa akar, sebatang pohon jangankan berbunga dan berbuah, tumbuh aja enggak bisa." bunda berkata panjang lebar sambil memelukku erat.

Aku tetap saja butuh waktu yang lama untuk mengerti apa yang dikatakan oleh bunda. Tapi yang jelas sekarang aku senang dan mengerti, kalau aku ternyata juga membanggakan bunda dan ayah meski tanpa piala.

Pedang Penusuk Jiwa

Ditulis oleh: Muhammad Rafid Nadhif Rizqullah (Penulis KKPK)
27 March at 11:17 


Ckiiit! Bruk.
 Tatapan mataku seketika menjadi buram. Ingin rasanya berteriak, memberitahu kepada seluruh dunia, bahwa aku sakit luar biasa. Lama-lama, dunia menjadi gelap. Suara indah seketika sirna. Dan kini, tak ada lagi yang bisa kuceritakan padamu tentang sekelilingku. Karena semuanya, seakan lenyap.
***
     Kecelakaan kala itu membuat hidupku berubah. Mataku menjadi buta karenanya. Tak hanya fisikku yang berubah, tapi rasa sayangku pada Mama berubah. Dulu yang kuanggap sebagai malaikat hidupku, kini tak lagi berarti apa-apa. Aku sangat benci pada Mama. 
  “Huh, Mama nyetir mobilnya enggak bener. Gara-gara Mama, aku jadi buta gini. Atau, Mama malah sengaja maungebunuh aku,” gumamku. Teringat kembali detik-detik peristiwa buruk dalam hidupku. Ya, detik-detik kecelakaan yang menimpaku. Bersamaan dengan itu, suara langkah kaki terdengar. Semakin lama, suara itu semakin terdengar. Siapa ya,itu?
   “Nayla, sayang… sekarang makan yuk,” ucap seseorang. Bertepatan dengan itu, suara langkah tak terdengar lagi. Itu tandanya, suara langkah kaki itu adalah suara langkah orang yang sekarang berada di dekatku! Ah, itu Mama! Aku menggeleng kuat.
   “Ayolah, Nay. Makan ya?”
“Kenapa sih, Mama maksa gitu? Apa jangan-jangan Mama mau ngeracunin aku ya? Memanfaatkan keadaan. Sekarang kan aku buta, jadi Mama bisa ngeracunin atau ngerjain aku sesuka hati,” balasku ketus. Mau bagaimana lagi? Aku sudah terlanjur kesal sama Mama.
   “Enggak kok sayang,” terdengar suara lembut yang menggetarkan jiwaku. Mama…., batinku. Kasihan juga ya, Mama. Kan Mama yang udahmengandungku dengan rasa sakit yang luar biasa, melahirkanku, dan merawatku.Apalagi sekarang Papa udah enggak ada, jadi Mama yang mencari nafkah, lanjutku membatin. Eh, tapi… apa suara lembut itu hanya rekayasa agar aku bisa makan itu? Keterlaluan. Aku meraba-raba. Segera saja aku pecahkan mangkuk yang dibawa Mama. Pyaaaar! 
  Sepertinya mangkuk itu pecah. Biarlah.Biar Mama yang membereskannya. Beberapa detik kemudian, terdengar suarateriakan dan tangisan. Aku mengabaikannya dan bergegas tidur.
***
      Pagi ini, aku ditugaskan oleh Tante Nisa untuk membereskan gudang. Mungkin kamu heran, mengapa aku bisa disuruh membereskan gudang. Karena, dua minggu yang lalu, aku sudah dioperasi. Ada seseorang yang mendonorkan matanya untukku. Jadi, sekarang aku bisa melihat semuanya. Sambil beres-beres, aku bersenandung ceria.
  “Mungkin Mama benar-benar tidak sayang padaku. Masa, oranglain rela mendonorkan matanya untukku, tapi Mama malahenak-enakan ke Singapura? Pake menitipkan aku kepada Tante Nisa lagi,” ucapku. Eh, buku diary siapa itu? Apa itu diaryku dulu? Karena penasaran, aku segera membukanya. Di halaman terakhir….
  
  Hari ini aku benar-benar sedih. Anakku yang dulu adalah penyejuk jiwa, sekarang seakan menjadi pedang penusuk jiwa. Kemarin, ia berkata padaku dengan ketus danmemecahkan mangkuk yang kubawa. Ketika aku hendak mengambil kain pel, telapak kakiku terkena pecahan mangkuk itu. Darah mengalir dengan banyaknya, hingga akuberada di sini, rumah sakit. 
  Sebenarnya aku tidak ingin di siniterus, karena aku kangen anakku. Meskipun anakku telah membuat jiwaku terluka,tapi aku sangat sayang. Bahkan aku semakin sayang. Hmm, besok, aku ingin mendonorkan mataku untuk Nayla. Agar bidadari kecilku bisa melihat dunia dengan senyuman indahnya.
     --Syfa---
  
“Jadi…?” aku tak percaya. “Iya, benar. Pendonoran mata itu membuat Mamamu meninggal. Kak Syfa alias almarhumah Mamamu berpesan sebelum mendonorkan matanya pada Tante, agar Tante menghibur kamu. Begitu. Dankamu tahu, Mamamu sebenarnya menangis tiada henti memikirkanmu,” cerita TanteNisa. Mulai dari situ, tangisanku meledak. “Ma, aku cinta Mama,” bisikku pelan di antara tangisku.

Monday, March 23, 2015

Ibu Telah Berbohong

Ditulis oleh Queen Aura (Penulis KKPK)
23 March 2015 at 10:19


Alia terkejut melihat apa yang ditemukannya di dalam lemari Ibu. Sebuah dompet lusuh dan berisi uang yang juga lusuh! Alia terhenyak..

"Jadii.. Ibu udah bohong, sama aku?"

Alia tidak dapat menahan perasaan yang berkecamuk dalam hatinya. Bercampur aduk antara bingung, heran, kecewa dan juga tidak percaya. Ternyataa! Ibu punya kok uang bahkan jumlahnya cukup banyak dari yang diminta Alia kemaren. Alia masih termangu dan mengingat kejadian beberapa hari yang lalu.

"Bu, abis Try Out, kita sekelas mau jalan-jalan ke mall juga sekalian nonton." kata Alia pada Ibu saat pulang sekolah.
"Kan, baru selesai TO, masih ada UN dan UAS. Jangan berleha dulu." jawab Ibu dengan tersenyum.
"Gak apa-apa kali bu! Orang aku udah janjian ama Lisa, Maura dan Cika."
"Nanti ya, Alia. Sekarang habiskan dulu makannya nanti kita bicarakan lagi!" kata Ibu sambil menambahkan sayur ke piring Alia.

Di sekolah, kemaren teman-teman Alia juga sudah menanyakan kepastian Alia buat ikut nonton dan main ke mall. Tapi Alia belum bisa memberikan jawaban karena pembicaraan dengan Ibu belum tuntas. Pulang sekolah, Alia kembali berkata pada Ibu.

"Bu, kasih Alia uang ya, buat nonton dan main ke mall ama teman-teman."
"Alia, itu kan, enggak harus. Lagipula kamu masih harus banyak belajar buat UN dan UAS." jawab Ibu
"Huh! Ibu mah begituu!" jawab Alia cemberut
"Alia, Ibu enggak punya uang buat keperluan kamu yang enggak penting seperti itu!" jawab Ibu sambil beranjak dari duduknya.

Dan, sekarang? Buktinya Ibu punya uang kok! Tapi kenapa harus bohong sama Alia? Alia rasanya pengen marah karena ternyata Ibu punya uang. Lalu kemudian dia keluar mencari Ibu yang sedang menyetrika baju. Alia menghampiri Ibu.

"Ibu bohong sama Alia!" kata Alia dengan wajah cemberut
"Eh, kok Alia ngomong gitu sama ibu?" tanya Ibu dengan heran.
"Nih, buktinya Ibu punya uang, kata ibu enggak ada!" nada suara Alia makin tinggi.

Ibu melihat dompet yang ada di tangan Alia. Mematikan setrikanya dan mengambil dompet itu dari Alia lalu berkata
"Alia, kamu kok bongkar lemari ibu sih?"
"Ibu bohong!" kata Alia tanpa mengindahkan tanya ibu padanya.
"Alia, denger ya, nak! Ibu memang enggak punya uang kalau untuk keperluan yang tidak penting."
"Tapi itu ada uang dalam dompet itu!" kata Alia
"Alia, ini uang yang ibu kumpulkan sedikit demi sedikit buat keperluan kamu nanti masuk SMP. Nih, lihat baru terkumpul sekitar 625.000 ribu. Sementara kebutuhan kamu nanti, masih banyak lagi." kata Ibu sambil menghitung uang itu.
"Jadi, maksud ibu uang itu buat Alia masuk SMP?" tanya Alia lagi.
"Alia sayang, sebenarnya kamu enggak perlu tahu bagaimana ibu mengumpulkan uang ini tapi kamu sudah keduluan mengetahuinya."

Alia tidak dapat berkata apa-apa lagi, matanya telah kabur oleh genangan air mata yang siap tumpah. Alia merasa telah sangat bersalah menuduh ibu berbohong. Padahal selama ini ibu telah berusaha mencari uang sendiri sejak ayah meninggal dua tahun yang lalu. Ibu menerima laundry dari tetangga sekitar.

"Bu, maafin Alia.. Hiks.." kata Alia memeluk Ibu dengan erat.