Friday, April 3, 2015

Pedang Penusuk Jiwa

Ditulis oleh: Muhammad Rafid Nadhif Rizqullah (Penulis KKPK)
27 March at 11:17 


Ckiiit! Bruk.
 Tatapan mataku seketika menjadi buram. Ingin rasanya berteriak, memberitahu kepada seluruh dunia, bahwa aku sakit luar biasa. Lama-lama, dunia menjadi gelap. Suara indah seketika sirna. Dan kini, tak ada lagi yang bisa kuceritakan padamu tentang sekelilingku. Karena semuanya, seakan lenyap.
***
     Kecelakaan kala itu membuat hidupku berubah. Mataku menjadi buta karenanya. Tak hanya fisikku yang berubah, tapi rasa sayangku pada Mama berubah. Dulu yang kuanggap sebagai malaikat hidupku, kini tak lagi berarti apa-apa. Aku sangat benci pada Mama. 
  “Huh, Mama nyetir mobilnya enggak bener. Gara-gara Mama, aku jadi buta gini. Atau, Mama malah sengaja maungebunuh aku,” gumamku. Teringat kembali detik-detik peristiwa buruk dalam hidupku. Ya, detik-detik kecelakaan yang menimpaku. Bersamaan dengan itu, suara langkah kaki terdengar. Semakin lama, suara itu semakin terdengar. Siapa ya,itu?
   “Nayla, sayang… sekarang makan yuk,” ucap seseorang. Bertepatan dengan itu, suara langkah tak terdengar lagi. Itu tandanya, suara langkah kaki itu adalah suara langkah orang yang sekarang berada di dekatku! Ah, itu Mama! Aku menggeleng kuat.
   “Ayolah, Nay. Makan ya?”
“Kenapa sih, Mama maksa gitu? Apa jangan-jangan Mama mau ngeracunin aku ya? Memanfaatkan keadaan. Sekarang kan aku buta, jadi Mama bisa ngeracunin atau ngerjain aku sesuka hati,” balasku ketus. Mau bagaimana lagi? Aku sudah terlanjur kesal sama Mama.
   “Enggak kok sayang,” terdengar suara lembut yang menggetarkan jiwaku. Mama…., batinku. Kasihan juga ya, Mama. Kan Mama yang udahmengandungku dengan rasa sakit yang luar biasa, melahirkanku, dan merawatku.Apalagi sekarang Papa udah enggak ada, jadi Mama yang mencari nafkah, lanjutku membatin. Eh, tapi… apa suara lembut itu hanya rekayasa agar aku bisa makan itu? Keterlaluan. Aku meraba-raba. Segera saja aku pecahkan mangkuk yang dibawa Mama. Pyaaaar! 
  Sepertinya mangkuk itu pecah. Biarlah.Biar Mama yang membereskannya. Beberapa detik kemudian, terdengar suarateriakan dan tangisan. Aku mengabaikannya dan bergegas tidur.
***
      Pagi ini, aku ditugaskan oleh Tante Nisa untuk membereskan gudang. Mungkin kamu heran, mengapa aku bisa disuruh membereskan gudang. Karena, dua minggu yang lalu, aku sudah dioperasi. Ada seseorang yang mendonorkan matanya untukku. Jadi, sekarang aku bisa melihat semuanya. Sambil beres-beres, aku bersenandung ceria.
  “Mungkin Mama benar-benar tidak sayang padaku. Masa, oranglain rela mendonorkan matanya untukku, tapi Mama malahenak-enakan ke Singapura? Pake menitipkan aku kepada Tante Nisa lagi,” ucapku. Eh, buku diary siapa itu? Apa itu diaryku dulu? Karena penasaran, aku segera membukanya. Di halaman terakhir….
  
  Hari ini aku benar-benar sedih. Anakku yang dulu adalah penyejuk jiwa, sekarang seakan menjadi pedang penusuk jiwa. Kemarin, ia berkata padaku dengan ketus danmemecahkan mangkuk yang kubawa. Ketika aku hendak mengambil kain pel, telapak kakiku terkena pecahan mangkuk itu. Darah mengalir dengan banyaknya, hingga akuberada di sini, rumah sakit. 
  Sebenarnya aku tidak ingin di siniterus, karena aku kangen anakku. Meskipun anakku telah membuat jiwaku terluka,tapi aku sangat sayang. Bahkan aku semakin sayang. Hmm, besok, aku ingin mendonorkan mataku untuk Nayla. Agar bidadari kecilku bisa melihat dunia dengan senyuman indahnya.
     --Syfa---
  
“Jadi…?” aku tak percaya. “Iya, benar. Pendonoran mata itu membuat Mamamu meninggal. Kak Syfa alias almarhumah Mamamu berpesan sebelum mendonorkan matanya pada Tante, agar Tante menghibur kamu. Begitu. Dankamu tahu, Mamamu sebenarnya menangis tiada henti memikirkanmu,” cerita TanteNisa. Mulai dari situ, tangisanku meledak. “Ma, aku cinta Mama,” bisikku pelan di antara tangisku.

Monday, March 23, 2015

Ibu Telah Berbohong

Ditulis oleh Queen Aura (Penulis KKPK)
23 March 2015 at 10:19


Alia terkejut melihat apa yang ditemukannya di dalam lemari Ibu. Sebuah dompet lusuh dan berisi uang yang juga lusuh! Alia terhenyak..

"Jadii.. Ibu udah bohong, sama aku?"

Alia tidak dapat menahan perasaan yang berkecamuk dalam hatinya. Bercampur aduk antara bingung, heran, kecewa dan juga tidak percaya. Ternyataa! Ibu punya kok uang bahkan jumlahnya cukup banyak dari yang diminta Alia kemaren. Alia masih termangu dan mengingat kejadian beberapa hari yang lalu.

"Bu, abis Try Out, kita sekelas mau jalan-jalan ke mall juga sekalian nonton." kata Alia pada Ibu saat pulang sekolah.
"Kan, baru selesai TO, masih ada UN dan UAS. Jangan berleha dulu." jawab Ibu dengan tersenyum.
"Gak apa-apa kali bu! Orang aku udah janjian ama Lisa, Maura dan Cika."
"Nanti ya, Alia. Sekarang habiskan dulu makannya nanti kita bicarakan lagi!" kata Ibu sambil menambahkan sayur ke piring Alia.

Di sekolah, kemaren teman-teman Alia juga sudah menanyakan kepastian Alia buat ikut nonton dan main ke mall. Tapi Alia belum bisa memberikan jawaban karena pembicaraan dengan Ibu belum tuntas. Pulang sekolah, Alia kembali berkata pada Ibu.

"Bu, kasih Alia uang ya, buat nonton dan main ke mall ama teman-teman."
"Alia, itu kan, enggak harus. Lagipula kamu masih harus banyak belajar buat UN dan UAS." jawab Ibu
"Huh! Ibu mah begituu!" jawab Alia cemberut
"Alia, Ibu enggak punya uang buat keperluan kamu yang enggak penting seperti itu!" jawab Ibu sambil beranjak dari duduknya.

Dan, sekarang? Buktinya Ibu punya uang kok! Tapi kenapa harus bohong sama Alia? Alia rasanya pengen marah karena ternyata Ibu punya uang. Lalu kemudian dia keluar mencari Ibu yang sedang menyetrika baju. Alia menghampiri Ibu.

"Ibu bohong sama Alia!" kata Alia dengan wajah cemberut
"Eh, kok Alia ngomong gitu sama ibu?" tanya Ibu dengan heran.
"Nih, buktinya Ibu punya uang, kata ibu enggak ada!" nada suara Alia makin tinggi.

Ibu melihat dompet yang ada di tangan Alia. Mematikan setrikanya dan mengambil dompet itu dari Alia lalu berkata
"Alia, kamu kok bongkar lemari ibu sih?"
"Ibu bohong!" kata Alia tanpa mengindahkan tanya ibu padanya.
"Alia, denger ya, nak! Ibu memang enggak punya uang kalau untuk keperluan yang tidak penting."
"Tapi itu ada uang dalam dompet itu!" kata Alia
"Alia, ini uang yang ibu kumpulkan sedikit demi sedikit buat keperluan kamu nanti masuk SMP. Nih, lihat baru terkumpul sekitar 625.000 ribu. Sementara kebutuhan kamu nanti, masih banyak lagi." kata Ibu sambil menghitung uang itu.
"Jadi, maksud ibu uang itu buat Alia masuk SMP?" tanya Alia lagi.
"Alia sayang, sebenarnya kamu enggak perlu tahu bagaimana ibu mengumpulkan uang ini tapi kamu sudah keduluan mengetahuinya."

Alia tidak dapat berkata apa-apa lagi, matanya telah kabur oleh genangan air mata yang siap tumpah. Alia merasa telah sangat bersalah menuduh ibu berbohong. Padahal selama ini ibu telah berusaha mencari uang sendiri sejak ayah meninggal dua tahun yang lalu. Ibu menerima laundry dari tetangga sekitar.

"Bu, maafin Alia.. Hiks.." kata Alia memeluk Ibu dengan erat.

Friday, March 20, 2015

Satu Titik Beribu Tanya

Ditulis oleh Muhammad Rafid Nadhif Rizqullah (Penulis KKPK)
20 March 2015 at 13:36

Suara khas ringtone handphoneku terdengar. Ternyata ada pesan dari Humayra, temanku. Kabarnya, Flanela dirawat di rumah sakit. Segera saja, aku berdiri dan berjalan meninggalkan kamar Abi. 
  “Nak… mau ke mana?” tanya Ayah lemah.Tanpa menoleh, aku menjawab bahwa aku akan pergi. “Sheila, tolong jangan pergi,” semakin lama suara Ayah semakin pelan. Aku mengabaikannya. Aku harus segera menjenguk Flanela, agar aku bisa masuk Surga. Dengan menebarkebaikan-kebaikan, bukankah itu juga salah satu cara untuk masuk Surga, kan?
   
   Aku sampai di rumah Flanela dengan membawa buah-buahan. Walaupun sedikit, tapi mungkin bermanfaat. Lagipula, uangku tidak cukup untuk membeli satu paket buah-buahan yang mahal itu. 
  “Flanela, kamu cepat sembuhya. Aku selalu do’ain kamu kok! Tenang aja,” ujarku seraya tersenyum. Sirat bahagia di wajah Flanela belum terpancar. Tanpa ba-bi-bu lagi, aku segera mengeluarkan lelucon agar Flanela tertawa. Tanpa terasa, jam sudah menunjukkan pukul 06.30 sore waktu Indonesia Barat. Arak-arakan langit senja sudah mulai terlihat, membuat orang yang melihatnya terpesona. “Sheila, pulang yuk!” ajak Humayra. Aku menggeleng. Akhirnya,Humayra pulang terlebih dahulu.
   
  Kriing! Kring! Telepon berbunyi,lantas Mama Flanela segera mengangkatnya. Selesai berbicara via telepon, Mama Flanela menuju kamar anaknya. “Innalillahi. Sheila, ada kabar buruk. Ayah Sheila……. Meninggal,” beritahu Mama Flanela. Begitu kagetnya aku. Innalillahi! Ayah? Aku membatin. Karena sedih sekali, aku segera pulang. Sampai di rumah, aku menangis. Menumpahkan semua yang dirasakan olehku. Setiap do’a terus dilantunkan. Dan aku berharap, semoga keajaiban datang. Akan tetapi, takdir tetaplah takdir. Nasi sudah menjadi bubur. Aku sangat terpukul atas kejadian itu. Angin pelan yang masuk dari jendela seakan membelaiku lembut. Dari situaku tersadar. Kunci masuk Surga tidak harus jauh-jauh dan capek-capek. Aku cukup menghormati dan menyayangi orangtua. Mengapa aku mengabaikan kata-kata Ayah tadi?
   
   Gerak semu harian, pengaruh dari rotasi bumi terlihat di langit senja yang menawan. Penyesalan memang selalu ada di akhir. Aku menatap Bundadi antara kerumunan orang-orang yang turut berduka cita. Aku jadi teringat bermilyaran jasa dan kasih sayang Bunda. Kini, aku harus melakukan apapun demi Bunda. Sebelum aku menyesal kelak. Sekarang aku harus fokus pada satu titik yang menimbulkan berjuta tanya. Satu titik yang harus kujalani, berjuta tanya harus kujawab dan kubuktikan. Ayah, maafkan aku. Tapi aku benar-benar cinta Ayah karena Allah. Maafkan Sheila tadi,ya Yah…, batinku seraya mengusap air mataku. Aku berusaha tersenyum. Memangbena ternyata. Di balik kejadian pasti ada hikmah. Itu bukan  kalimat klise, namun sudah terbukti benar. Danh ikmah yang dapat kuambil sekarang, aku harus cinta dan sayang kepada orangtua,berbakti kepada orangtua agar masuk Surga dan sukses dunia akhirat. Karena,ridha Allah swt adalah ridha orang tua juga.
  
   *Cerita ini diambil dari kisah nyata teman penulis dengan sedikit perubahan dan sudut pandang yang berbeda.

Wednesday, March 18, 2015

Hari Istimewa Di Rumah Sekar

Ditulis oleh Queen Aura (Penulis KKPK)
18 March 2015 at 12:34


"Sekaaaarrr...!"
"Iyaa, apa sih Paa?" Sekar menyahuti panggilan Papa dengan malas. Buku cerita misteri yang ada di tangannya telah sampai di bab yang paling menegangkan. 
"Sekaaaarr..!" panggilan papa terdengar lagi.
"Iyaa, pa." Sekar meletakan bukunya dan berjalan keluar kamar.
"Ada apa, pa?" Sekar bertanya sambil menghampiri papa yang tengah sibuk di dapur rumah mereka.
"Nih, tolong papa ya. Belikan semua yang ada di daftar ini di supermarket depan deh." kata papa mengulurkan secarik kertas yang berisi catatan cukup panjang.
"Buat apa nih, pa? Papa mau masak puding? Juga kue-kue? Trusss..." belum sempat Sekar meneruskan pertanyaannya, papa sudah menyuruh Sekar pergi sambil memberikan uang seratus ribuan.
"Udah, enggal usah bawel, sekarang aja perginya! Hati-hati gowesnya ya." papa berkata sambil meneruskan pekerjaannya.

Sekar heran saja, kenapa papa memasak makanan yang cukup istimewa pada hari ini. Seingatnya, tidak ada yang ulang tahun pada hari ini. Hmmm...

Sekar membeli semua daftar belanjaan itu, membayarnya dan segera pulang. Sampai di rumah, papa terlihat masih sibuk dengan beberapa cetakan puding yang lucu-lucu.

"Sekar, ini nanti kamu sendokan memasukannya ke dalam cetakan ya!" perintah papa pada Sekar. Sekar sangat senang sekali menyendokan puding cokelat itu ke dalam cetakan berbentuk kura-kura. Sampai semua adonan itu habis.

"Setelah udah enggak panas lagi baru dimasukan ke kulkas ya." kata papa memperingatkan Sekar.

"Siaaap pa! Oiya pa, ini makanan buat acara apa? Bulan ini enggak ada yang ultah kita?" tanya Sekar masih penasaran.
"Sekar sayang, yang dirayakan itu kan enggak ultah doang, tapi hari-hari penting dalam hidup kita juga." jawab papa 
"Oh, tapi hari apa dong?" tanya Sekar makin penasaran.
"Entar, kamu juga bakal tahu, setelah mama pulang kantor dan semua sudah kumpul di rumah." kata papa yang sekarang mengadon bahan untuk kue bolu.

Sekar terlihat sibuk membantu papa di dapur, menyenangkan sekali karena kali ini papa membuat makanan yang paling disukai seisi rumah. Puding cokelat vla susu, kue bolu pandan dan kue lepat pisang.

Petang telah menjelang magrib. Mama sudah pulang dari kantor, kakak juga sudah pulang kuliah. Semua sudah berkumpul kembali di rumah mungil itu. Sehabis sholat magrib, papa mengeluarkan semua makanan dan menatanya di meja makan.

"Mama, ini buat mama. Khusus papa masak bersama Sekar, loh!" kata papa memberikan puding cokelat lengkap dengan vlanya ke mama.
"Waaah, makasih papa, tapi.. Ini buat perayaan apa? Kan mama enggak ulangtahun?" tanya mama dengan senang sekaligus heran.
"Mama lupa? Kalau hari ini, tepat 19 tahunnya, mama pertama kali merasakan hadirnya si kakak di dalam rahim.mama!" kata papa yang membuat semua terkagum-kagum.
"Ya ampun pa, maksud papa kalau hari ini tuh, ngerayain mama pertama kali mengandung aku?" tanya kakak dengan mata berkaca-kaca
"Papaaa, duuh, makasih banyak ya paa, mama aja enggak ingat lagi.." jawab mama sambil merangkul papa dengan sayang.
"Pa, aku juga sayang banget sama papa juga mama!" kata kakak enggak.mau kalah ikutan merangkul papa.
"Aku juga sayaaaang kaliaaan semuaaa!" kata Sekar ikutan menghambur kepelukan.papa dan mama juga kakakknya.

Penulis KKPK Menjadi Duta Film Ada Surga di Rumahmu

Dua penulis Kecil-Kecil Punya Karya (KKPK) yaitu Queen Aura dari Jakarta dan Muhammad Rafid Nadhif Rizqullah dari Bandung didapuk menjadi Duta Film Ada Surga di Rumahmu (17/03) setelah melalui proses pemilihan yang cukup alot. Keduanya merupakan penulis yang aktif dan dapat memberikan motivasi yang positif bagi rekan-rekan sebayanya.

Queen Aura, siswa SDN Jatirahayu VIII Bekasi, menulis novel Sahabat Kura-Kura setelah sebelumnya menulis bersama sembilan rekannya dalam seri Juiceme bertema Aku dan Guruku.  Anak kedua dari tiga bersaudara mengganggap penulisan cerita pendek bertema aku dan orang tuaku sangat mudah. Kisah-kisah Queen Aura dapat disimak melalui akun FB dengan nama yang sama.

Tak jauh berbeda dengan Queen, Muhammad Rafid Nadhif Rizqullah menyambut dengan riang penugasan sebagai duta Film Ada Surga di Rumahmu. Rafid, yang telah menghasilkan beberapa karya seperti KKPK Candy world, KKPK JuiceMe Tersandung Hobiku dan Kakek Misterius, KKPK Luks Sejuta Bibit Impian serta KKPK Diary untuk Dunia, sangat bersemangat saat diminta menulis cerita pendek tentang kehidupan sehari-hari bersama keluarga. Celoteh gembira siswa SDIT Fithrah Insani 1 ini dapat disimak melalui http://halamanrafidstory18.blogspot.com/

Tak hanya menulis cerita pendek, Queen dan Rafid juga akan berinteraksi dengan para pemain, kru dan produser film sehingga keduanya diharapkan dapat memberikan informasi proses di balik layar pembuatan sebuah film dan menggugah kepedulian anak-anak untuk lebih mencintai kedua orang tua mereka sebagai pemegang kunci surga di rumah masing-masing.

Sunday, March 15, 2015

[Liputan] #SurgaDirumahmu dalam Hari Bebas Kendaraan Bermotor 15 Maret 2015

Mentari baru saja muncul di ufuk timur namun kawan-kawan dari Mizan Productions dan Sanggar Ananda sudah bergegas hadir dalam rangkaian Hari Bebas Kendaraan Bermotor (15/3) yang rutin diselenggarakan oleh pemerintah DKI Jakarta setiap minggunya. Dengan membawa poster film Ada Surga di Rumahmu mereka asyik mengajak masyarakat di sela-sela keriuhan menikmati pagi untuk menyaksikan film yang akan tayang di bioskop mulai 2 April yang diproduksi oleh Mizan Productions, Nava dan Smaradana Pro.

Tak hanya berjalan di sepanjang jalan Thamrin namun mereka juga mengajak berfoto, berjoget bahkan naik ke atas pentas. Semarak kegiatan kawan-kawan bisa dilihat melalui foto-foto berikut ini:


















Wednesday, March 11, 2015

[Hikmah 10] Mata Ayah

Ini adalah kisah mencengangkan dari seorang remaja kurus kering yang sangat mencintai sepakbola dari lubuk hatinya yang paling dalam. Remaja tersebut sangat serius mengikuti latihan demi latihan. Namun karena kondisi fisiknya yang jauh lebih kecil dari anak sebayanya, maka remaja tersebut tak jua menjadi atlit. Pada setia pertandingan, remaja tersebut hanya duduk di bangku cadangan dan hampir tak pernah turun ke lapangan.

Remaja tersebut hidup hanya berdua saja dengan ayahnya. Dan kedua orang tersebut punya hubungan yang sangat istimewa. Meskipun sang anak selalu duduk di bangku cadangan, ayahnya selalu siap mengelu-elukan dirinya. Dia tak pernah ketinggalan untuk hadir dalam setiap pertandingan.

Anak muda tersebut tetaplah yag terkecil di kelasnya saat ia memasuki bangku SMA. Namun sang ayah tetap menyemangati dirinya dan menyatakan bahwa remaja tersebut tak perlu bermain sepakbola jika ia tak menginginkannya.

Tetapi anak muda tersebut sungguh menyukai sepakbola dan memutuskan untuk bertahan. Ia memutuskan untuk bekerja keras dalam setiap latihan, dan mungkin ia mendapatkan kesempatan bermain saat berada di kelas yang lebih tinggi. Sepanjang masa di SMA ia tak pernah ketinggalan waktu latihan atau pertandingan meski selalu berada di bangku cadangan selama tiga tahun.

Ayahnya yang setia selalu menenami, selalu punya kata-kata untuk menyemangatinya. Saat anak muda tersebut masuk perguruan tinggi, ia memutuskan untuk mencoba bergabung dalam klub sepakbola sebagai calon pemain. Semua orang mengira ia akan gagal namun, anak muda tersebut berhasil lolos. Pelatihnya selalu memasukkan anak muda tersebut ke dalam daftar pemain karena anak muda tersebut selalu berlatih dengan tekun dan sepenuh hati, serta pada saat yang bersamaan memberi semangat dan dukungan pada anggota tim yang memang sangatlah dibutuhkan.

Berita tersebut sangat menggembirakan dirinya sehingga pemuda tersebut segera menelpon ayahnya untuk mengabarkan berita baik tersebut. Sang ayah berbagi kebahagiaan tersebut dan menerima kiriman tiket untuk menonton pertandingan di sepanjang musim permainan di perguruan tinggi tersebut.

Pemuda yang tekun tersebut tak pernah ketinggalan jadwal latihan selama empat tahun masa perkuliahan, namun ia tak pernah mendapatkan kesempatan untuk bertanding. pertandingan semi final di tahun keempat tersebut, si pemuda itu menghampiri sang pelatih sambil menyodorkan hpnya yang berisi pesan singkat yang baru saja diterimanya.

Dengan mata berkaca-kaca, pemuda tersebut berkata lirih, "Ayahku meninggal pagi ini. Bolehkah aku izin untuk tidak mengikuti latihan hari ini?". Sang pelatih merangkul bahu pemuda tersebut dan berkata, "Kau bisa meninggalkan latihan selama seminggu, anakku. Dan tak perlu untuk merencanakan kembali mengikuti pertandingan pada hari sabtu ini."

Pada hari sabtu pertandingan berlangsung dengan buruk. Di awal pertandingan babak pkedua, pemuda tersebut dengan diam-diam masuk ke dalam ruang ganti dan mengenakan seragamnya. Saat pemuda itu duduk di bangku cadangan, pelatih dan anggota timnya terperanjat melihat kawannya sudah kembali. "Pelatih, izinkan aku bermain. Aku harus bertanding hari ini," ujar pemuda tersebut. Sang pelatih pura-pura tak mendengarnya. Tak mungkin ia memasukkan pemain terburuk dalam pertandingan semi final. Namun pemuda tersebut berkeras, dan karena merasa kasihan pada pemuda tersebut, akhirnya sang pelatih menyerah. "Baiklah," katanya. "Kau bisa masuk lapangan hijau."

Tak lama kemudian si pelatih, para pemain dan semua orang di lapangan tersebut tak mempercayai pandangan mereka. Pemuda bertubuh kecil yang tak pernah masuk lapangan hijau bermain dengan baik. Tim lawan tak dapat menghentikannya. Dia berlari, mengoper bola, menghalangi dan menendang bola layaknya seorang bintang. Anggota timnya mulai merasa bahwa mereka mungkin akan menang. Skor pertandingan menjadi berbeda tipis. Di akhir pertandingan babak kedua, pemuda tersebut menerima operan bola di dekat kotak pinalti dan mengarahkan tendangan bola ke gawang lawan. Goooollll!!!

Terdengar sorak sorai para pendukung tim tersebut. Para anggota tim mendukungnya di atas bahu mereka. Sungguh sebuah elu-elu yang tak biasanya kau dengar. Akhirnya setelah mereka kembali ke ruang ganti dan sebagian besar pergi mandi, sang pelatih melihat pemuda tersebut duduk sendiri dengan tenang di sudut ruangan. Pelatih mendatanginya dan berkata, "Nak, aku sungguh tak mempercayainya. Kamu luar biasa! Katakan padaku kau kerasukan apa? Bagaimana kau melakukannya?"

Pemuda itu menatap sang pelatih dengan mata berkaca-kaca lalu berkata, "Anda tahu bahwa ayahku telah meninggal, namun apakah kau sadari bahwa ayahku buta?". Pemuda tersebut menelan ludah dan memaksakan sebuah senyuman, "Ayahku selalu hadir dalam setiap pertandingan akan tetapi hari ini untuk pertama kalinya ia dapat melihatku bertanding dan aku ingin menunjukkan padanya bahwa aku dapat melakukannya."

Layaknya ayah si atlet tersebut, Allah selalu hadir menyemangati kita. Allah selalu mengingatkan kita untuk terus maju. Allah selalu memberikan apa yang kita butuhkan bukan apa yang kita inginkan. Allah tak pernah melewati setiap waktu dalam hidup kita. Maka berlaku dan bertindaklah selalu atas nama-Nya.

Disarikan dari berbagai sumber